Publikasi pada: Sab, 20 Mei 2017

An-Nisa ayat 9

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

“Dan hendaklah merasa takut, orang-orang yang jika mereka meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan ucapan yang benar”. (QS An-Nisa [4]: 9)

Menurut Anda, apa maksud dari ayat ini ???

Ada yang menyatakan bahwa dengan ayat ini, Allah SWT memperingatkan agar setiap orang senantiasa memperhatikan anak cucu yang akan ditinggalkan agar jangan sampai mereka mengalami kesempitan hidup (krisis finansial) sebagai akibat kesalahan orangtuanya dalam membelanjakan dan mengelola hartanya. Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini???

Yuk kita urai dari segi susunan ayat yang menyertainya! Dalam istilah para ahli tafsir, pola ini disebut dengan munasabatul ayat (kaitan antar ayat).

Dimulai dari ayat 1, ketika Allah SWT berfirman “…Wattaqullöh alladzï yatasä-alüna bihï wal-arhäm…” (Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan-Nya mereka saling meminta dan [bertaqwalah] dalam kaitannya dengan saudara serahim), Dia sudah mulai mengisyaratkan tentang harta. Imam Al-Hasan, Mujahid, dan Ibrahim mengatakan bahwa lafadz ini menunjukkan ucapan seseorang “Aku meminta kepadamu dengan nama Allah dan hubungan keluarga”. Permintaan yang dimaksudnya adalah harta. Di sisi lainnya, Ibnu Abbas, Qatadah, As-Sudi, dan Ad-Dhahak menjelaskan bahwa lafadz ittaqü al-arhäm maksudnya (merasa takut) dari memutuskan hubungan keluarga. Maka dengan gambaran ini, ayat tersebut sedang menjelaskan hubungan keluarga yang berkaitan dengan harta sebagai alat dan sarana terjadinya saling tolong menolong antara mereka.

Pandangan di atas dikuatkan oleh lafadz berikutnya ketika Allah SWT memulai ayat yang kedua. “Wa ätul yatämä amwälahum” (Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka). Lafadz ini sudah mulai masuk ke dalam makna “terjadinya resiko meninggal dunia pada orangtua yang memiliki keturunan (anak-anak) yang masih kecil” dan mereka meninggalkan harta waris yang tidak dapat langsung diberikan semuanya saat anak-anaknya masih kecil (yatim). Pendapatan harta waris bagi anak kecil sebaiknya diamanatkan dulu kepada walinya dengan peringatan yang sangat keras dengan lafadz berikutnya “walä tatabaddalul khobïts bit thoyyib” (dan janganlah kalian sebagai walinya menukarkan harta yang buruk [milik kalian] dengan harta yang baik [milik anak yatim]) dan lafadz “wa lä ta’kulü amwälahum ilä amwälikum” (dan janganlah kalian memakan harta mereka [dengan bercampur] pada harta kalian). Sesungguhnya hal yang demikian adalah dosa yang besar. Imam Al-Jashash dalam kitab tafsirnya Ahkämul Qurän menjelaskan, bahwa ayat ini menjadi petunjuk atas kewajiban menyerahkan harta [waris] anak yatim setelah mereka baligh (cukup umur) dan memberikan arahan atau bimbingan kepada mereka [dalam menggunakannya] walaupun penyerahan harta tersebut tidak diminta sebelumnya. Hal ini dikarenakan perintah untuk menyerahkannya bersifat mutlak (tanpa batas tertentu) yang diancam bagi orang yang tidak melaksanakannya tanpa ada persyaratan si anak yatim meminta penyerahan harta tersebut.

Di ayat yang ke-3 “wa in khiftum a(n)lä tuqsithü fil yatämä, fan kihü mä thöba lakum minan nisä matsnä wa tsulasa wa rubä’a…..” (Dan jika kamu merasa takut tidak akan berlaku adil dalam perkara anak yatim, maka nikahilah wanita lainnya yang [sekiranya] baik bagimu; dua orang, tiga orang, dan/atau empat orang), Allah SWT menyindir wali yang tidak dapat berlaku adil kepada anak yatim yang hartanya dititipkan kepadanya. Urwah bin Jubair pernah bertanya kepada Aisyah tentang makna ayat ini. Kata Aisyah, “Hai anak saudariku…! Yang dimaksudkan adalah anak yatim perempuan yang berada dalam tanggung jawab walinya. Lalu walinya itu menyukai anak tersebut dan hartanya, sehingga ia pun ingin menikahinya (dengan harapan) memberi mas kawinnya bisa lebih rendah atau lebih murah. Kemudian mereka dilarang menikahinya, kecuali jika mereka akan berlaku adil dan (jika tidak dapat berlaku adil) mereka diperintahkan untuk menikahi wanita lainnya”.

Di ayat yang ke-4, Allah SWT menyelang pembahasan dengan masalah mas kawin terkait dengan pernikahan yang disitir dalam ayat yang ke-3.

Di ayat yang ke-5, Allah SWT melanjutkan kembali pembahasan tentang harta dari aspek yang berbeda. “Wa lä tu’tus sufahä amwälakum….” (Dan janganlah kamu memberikan hartamu kepada as-sufahä. Menurut pengertian dari Imam Az-Zamakhsyari, as-sufaha itu adalah orang yang memubadzirkan hartanya karena mereka membelanjakan harta tersebut pada perkara-perkara yang tidak laik dan mereka tidak dapat mengelolanya dengan baik.

Di ayat yang ke-6, Allah SWT memerintahkan wali anak yatim agar menguji anak tersebut atau membimbingnya dalam pengelolaan harta hingga mereka mencapai usia pernikahan.

Di ayat yang ke-7, Allah SWT mulai membahas tentang pola pembagian harta waris. Pola ini terus berlanjut hingga ayat yang ke-14. Maka dengan demikian, ayat 9 surat An-Nisa tersebut sangat berkaitan dengan masalah harta peninggalan atau harta waris sebagai usaha dan ikhtiar orangtua terhadap nasib anak-anaknya supaya cukup dalam hal finansial di masa yang akan datang.

© Copyright 2017 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps