Publikasi pada: Kam, 29 Jun 2017

Benarkah Persis, Persatuan Islam, Ahli Bid’ah ? Aliran Sesat ?

solusi masa depan anda

Mencoba menelusuri sebuah artikel tentang masuk Islamnya DR. Gary Miller, tiba-tiba terperosok ke sebuah blog yang di dalamnya ada artikel tentang “Kesesatan Persis”. Ketika diuji coba dalam browsing dengan pencarian kata ‘kesesatan Persis’ ternyata ada di rank 1 google.

Dengan ini, penulis mencoba menelusuri dan turut menjelaskan kedudukan dari tema yang dibahas itu, sekaligus memperkenalkan sekilas sejarah Persatuan Islam karena dari para komentator di blog tersebut kiranya tidak ada yang menelusuri website lain. Padahal tulisan tentang Persis dan term dakwah Islamnya sudah banyak dibahas dalam website lainnya. Bahkan Persis, sebagai salahsatu jam’iyyah Islam di Indonesia, pun memiliki website sendiri yang bisa menjadi bahan klarifikasi bila ada tuduhan tertentu terhadap Persis; yakni http://persis.or.id.

Persis, Persatuan Islam, Ahli Bid’ah ? Aliran Sesat ?

Penulis di blog tersebut, kesimpulannya mengarah pada pernyataan bahwa Persis itu Ahli Bid’ah. Yang menjadi alasan bid’ahnya Persis adalah sebagaimana kutipan di bawah ini:

Beberapa bid’ah yang dilakukan oleh persis adalah:

  1. mendirikan Masjid dengan stempel Persis padahal nabi tidak pernah menulisi masjid dengan cap Persis (padahal yang namanya masjid adalah milik umat Islam yang mana saja tanpa memandang kelompok)
  2. Persis gemar membid’ahkan kelompok lain  padahal Nabi dan para sahabatnya berlaku lembut dengan sesama muslim
  3. Persis memakai mushaf Quran dalam belajar Quran padahal Nabi mengajar para sahabatnya dulu tidak pakai quran

Sekilas Sejarah Persatuan Islam

Sebelum membahas inti masalah yang dikemukakan oleh penulis blog tersebut, baiklah kiranya disampaikan terlebih dahulu sekilas perjalanan berdirinya Persis di Indonesia.

Tampilnya jam’iyyah Persatuan Islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan “reformasi” Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indonesia untuk melakukan pembaharuan Islam.

logo-persisLahirnya Persis diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam) di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, dan berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan ciri dan karakteristik yang khas.

Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis).

Nama Persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 103 : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang/aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai”. Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.

Gema dakwah Persatuan Islam sangat terasa kencang semenjak A. Hassan turut serta bergabung dengan jam’iyyah Persatuan Islam pada tahun 1926, tiga tahun setelah berdirinya Persis.

Bid’ah : Suatu Core Dakwah Tajdid Al-Islam

Karena bergerak dalam lini Pembaruan Islam atau lebih tepatnya sebagai gerakan tajdid, yang bertujuan mengembalikan kemurnian ajaran Islam dari percampuran dengan ajaran-ajaran di luar Islam (baik dari ajaran agama lainnya maupun ajaran baru yang tidak berkait erat dengan agama tertentu), maka istilah bid’ah akan selalu ditemui dalam gerak dakwah Persatuan Islam. Namun istilah bid’ah yang digaungkan dalam dakwah Persatuan Islam bukan dimaksudkan untuk mem-vonis atau men-judge pihak lain, akan tetapi sebagai bagian dari tujuan dakwah Islam yang di antaranya mengingatkan umat agar terhindar dari amalan bid’ah. Menyeru dan mengajak umat agar berada dalam jalan Islam yang sesuai dengan ketetapan dari Allah SWT dan Rasul-Nya, berarti pula mengingatkan agar terhindar dari ajaran-ajaran yang bukan berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan alhamdulillah dengan jalan dakwah seperti ini, sekarang sudah banyak kaum muslimin yang berikhtiar diri dalam mengamalkan sunnah Rasul dan menjauhi bid’ah walaupun dirinya mengaku “saya bukan orang Persis”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun selalu mengingatkan bahaya bid’ah ini dalam setiap muqaddimah khutbah Jum’atnya. Beliau mengingatkan dengan sabdanya :

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari [Nabi] Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa sallam] dan seburuk-buruk perkara adalah mengadakan sesuatu yang baru [dalam agama], serta setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Muslim)

Lalu, apa yang dimaksud dengan bid’ah ?

Imam As-Syatibi dalam kitabnya Al-I’tisham menjelaskan :

أَصْلُ الْمَادَّةِ ” بَدَعَ ” لِلِاخْتِرَاعِ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

Pokok dari tema “bada’a” [yang merupakan asal kata dari bid’ah] untuk menunjukkan “sesuatu yang baru yang tidak ada yang serupa sebelumnya”. Atau ringkasnya, menurut arti bahasa, bid’ah itu adalah “mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya”.

Sedangkan menurut pengertian istilah atau pengertian syari’at, sebagaimana dikemukakan oleh Imam As-Syatibi bid’ah itu adalah sebagai berikut.

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Bercermin dari dua sisi pengertian di atas, yang dilarang dalam agama adalah bid’ah dalam pengertian istilah atau syari’at. Sedangkan bid’ah dalam pengertian bahasa, adakalanya diperbolehkan, karena muatannya lebih umum daripada pengertian syari’at. Ringkasnya, bid’ah dalam ajaran agama tidak diperbolehkan. Sedangkan bid’ah dalam urusan selain aturan agama, justru dianjurkan, seperti terciptanya kendaraan modern yang di zaman Nabi Saw. belum pernah ada.

Cap Masjid Persis, Bid’ah kah ?

Di antara alasan penulis blog tersebut menyatakan bahwa Persis adalah ahli bid’ah berdasarkan kenyataan bahwa di sebagian masjid-masjid binaan Persatuan Islam ada plang “Masjid Persatuan Islam” atau yang lebih banyak adalah masjid dengan nama tertentu (misalnya: Masjid Al-Ittihad) yang labelnya disatukan dengan plang identitas jamaah Persis (baik Pimpinan Cabang, Pimpinan Ranting atau Pimpinan Jama’ah). Apakah hal ini termasuk bid’ah ? Dan, bila disimpulkan bahwa masjid tersebut diberi nama dengan “Masjid Persatuan Islam”, apakah di zaman Rasul ada masjid yang diberi nama atau tidak ada ?

Bila berpikir jernih disertai kecermatan dalam melihat realitas yang ada, pemberian nama terhadap suatu masjid bukan hanya dilakukan di jam’iyyah Persatuan Islam saja. Di organisasi Islam yang lainnya pun kenyataan seperti ini ada. Apalagi jika yang dibicarakan adalah plang atau identitas suatu jama’ah yang ditempatkan di depan suatu masjid. Bahkan ada suatu jama’ah atau aliran tertentu yang anggotanya hanya 1 keluarga saja, ia sudah berani menempelkan plang jama’ahnya di masjid yang ia bangun.

Dengan demikian, pemberian nama atau plang yang ditempatkan untuk identitas suatu masjid adalah urusan teknis yang tidak ada kaitannya dengan urusan ubudiyyah. Hal ini semata-mata bertujuan untuk tertib administrasi dan ciri yang menandakan bahwa masjid tersebut dibangun atau diwakafkan untuk jam’iyyah Persatuan Islam. Dan yang penting menjadi catatan, dengan penamaan ini tidak dimaksudkan untuk mempersempit dan membatasi jama’ah yang hadir dan menggunakan masjid tersebut. Artinya, masjid tersebut tetap diperuntukkan bagi semua kalangan, bukan hanya untuk anggota Persis.

Sama halnya dengan masjid-masjid lain yang diberi identitas dengan nama suatu organisasi Islam lainnya. Nahdhatul Ulama, misalnya, ketika memberi nama suatu masjid dengan nama-nama tertentu dan disatukan labelnya dengan identitas organisasi, tentunya bukan berarti masjid itu hanya diperuntukkan bagi warga Nahdhiyyin saja.

Pemberian nama bagi suatu masjid bukan hanya terjadi pada masa sekarang. Hanya bedanya, zaman sekarang karena terdorong dengan arus modernitas, nama bagi suatu masjid diabadikan dengan tulisan atau plang. Pemberian nama bagi suatu masjid pernah terjadi juga di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itulah, Imam Al-Bukhari dalam salahsatu bab di kitab shahihnya mencantumkan judul bab “Hal yuqalu masjid bani fulan?”. Dengan judul babnya ini, beliau mengisyaratkan adanya ketetapan hukum tertentu terhadap suatu masjid yang diberi nama. Dan ternyata, di zaman Rasul Saw. penamaan suatu masjid sudah ada. Di antaranya sesuai dengan keterangan hadits sebagai berikut.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابَقَ بَيْنَ الخَيْلِ الَّتِي أُضْمِرَتْ مِنَ الحَفْيَاءِ، وَأَمَدُهَا ثَنِيَّةُ الوَدَاعِ، وَسَابَقَ بَيْنَ الخَيْلِ الَّتِي لَمْ تُضْمَرْ مِنَ الثَّنِيَّةِ إِلَى مَسْجِدِ بَنِي زُرَيْقٍ

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma [ia berkata]: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlomba pacuan kuda dengan kuda yang disiapkan sebagai kuda pacuan di mana beliau melepasnya dari al-Hafya’ dan batas akhirnya di Tsaniyatul Wada’ dan beliau juga berlomba pacuan dengan kuda yang bukan kuda pacuan dari Tsaniyatul Wada’ sampai batas akhirnya di Masjid Bani Zuraiq”. (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lainnya disebutkan :

عن ابن عمر، أن النبي صلى الله عليه وسلم  دخل مسجد بني عمرو بن عوف

Dari Ibnu Umar [ia berkata], “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke masjid Bani ‘Amer bin ‘Auf……….”. (HR. Ad-Darimi)

Apakah Persis Membid’ahkan Kelompok Lain ?

Ungkapan ini perlu mendapat perhatian dan kecermatan tersendiri. Pada dasarnya, bila ada kader atau muballigh dari Persatuan Islam yang membahas tentang tema bid’ah, maka tema pembahasan ditujukan kepada amalan-amalan tertentu yang masuk dalam kategori bid’ah. Ungkapan bid’ah ini tidak ditujukan kepada nama kelompok atau organisasinya, melainkan menerangkan tentang ruang lingkup amalan yang termasuk ke dalam istilah bid’ah dalam agama. Bahkan adakalanya sang Muballigh hanya sekadar menerangkan tentang pengertian dan hukum bid’ah dalam agama, tanpa menyebutkan jenis amalannya, bagi sebagian orang yang respek terhadap masalah tersebut, ia langsung mem-vonis bahwa muballigh itu sedang menyindir pihak tertentu. Padahal yang dijelaskan oleh muballigh tersebut berdasarkan keilmuan yang sudah menyebar di kalangan para ulama selain dari ulama Persis.

Penerangan tentang bid’ah dalam agama pun bukan hanya core dakwahnya Persis, karena sebelum kehadiran Persis di Indonesia, masalah bid’ah dalam agama sudah banyak dibahas oleh ulama-ulama lainnya. Ulama Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz kelahiran Riyadh tahun 1909 M. misalnya, pernah juga membahas tentang tema-tema tertentu yang termasuk ke dalam kategori bid’ah dalam kitabnya At-Tahdzir minal Bida’. Al-Imam Abu Bakar At-Tharthusi menyusun kitab dalam tema ini dengan judul Al-Hawadits wa Al-Bida’. Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail bin Ibrahim as-Syafi’i menulis kitab dalam tema ini dengan judul Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits. Dan masih banyak ulama lainnya yang membahas tema ini.

Penjelasan mereka tentang hal itu bukan didasari oleh kebencian terhadap suatu kaum, melainkan perhatian besar mereka untuk keselamatan suatu kaum dari perbuatan yang dilarang dalam agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits di atas, sangat besar perhatiannya terhadap umatnya agar terhindar dari bid’ah. Demikian juga sahabatnya, bahkan Hudzaifah bin Yaman pernah menegur langsung seseorang yang tidak betul dalam kaifiyat shalatnya dengan mengatakan :

وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ سُنَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kalau kamu mati [dengan amal yang seperti itu], maka kamu mati bukan dalam Sunnah [Nabi] Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR Al-Bukhari)

Mempelajari Al-Quran Melalui Mushaf, Bid’ah kah ?

Selain masalah nama masjid dan “membid’ahkan pihak lain”, penulis dalam blog tersebut mendasari sebutan Persis sebagai ahli bid’ah karena pembelajaran Al-Quran dilakukan melalui mushaf. Masalah ini pun bukan hanya dilakukan oleh anggota Persis, anggota dari organisasi Islam lainnya mempelajari Al-Quran sekarang ini pasti melalui Mushaf (kitab yang dicetak). Bahkan karena pengembangan dan kemajuan teknologi semakin cepat, kini para pembelajar Al-Quran bukan hanya mengandalkan mushaf, ada pula yang menggunakan HP Android atau laptop. Apakah yang demikian itu termasuk bid’ah? Kami tidak tahu, bagaimana ia mempelajari Al-Quran? Atau, jangan-jangan sang penulis blog ini ………………

Kiranya, ia perlu mendalami Islam dengan baik dan benar. Sebaiknya dia bisa menempatkan “mana yang disebut dengan bid’ah? Dan mana pula yang termasuk dalam Maslahah Mursalah?” Semoga ia mendapat hidayah dari Allah SWT. Aamiin.***

 

Screenshot blogger

 

 

Sumber Referensi :

  1. serbasejarah.wordpress.com
  2. id.wikipedia.org
  3. persis.or.id
  4. https://muslim.or.id
  5. wiseislam.blogspot.com
  6. As-Syatibi, Al-I’tisham.
© Copyright 2017 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps