Publikasi pada: Sen, 24 Feb 2014

Daging Aqiqah Dimasak

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Dalam sebuah pengajian ibu-ibu, ada yang mengemukakan pertanyaan, “Bolehkah daging aqiqah itu dibagikan dalam keadaan sudah dimasak?” supaya shadaqahnya sekalian dengan nasi yang tinggal dimakan, tidak perlu susah-susah memasak lagi.

Saat itu saya cukup menjawab bahwa pelaksanaan aqiqah itu sama seperti pelaksanaan kurban waktu ‘Iedul Adha.

Bila kita menelusuri persoalan ini, ada beberapa riwayat yang mengisyaratkan pada pendapat demikian.

Hadis Pertama:

أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، نا عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي كُرْزٍ، عَنْ أُمِّ كُرْزٍ، قَالَتْ : قَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ: إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ غُلَامًا نَحَرْنَا عَنْهُ جَزَورًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لَا، «بَلِ السُّنَّةُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، يُطْبَخُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرُ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَفِي أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ

Telah mengabarkan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Malik, dari Atha, dari Abu Kurz, dari Ummu Kurz, ia berkata: “Seorang perempuan dari keluarga Abdurrahman bin Abu Bakar berkata jika istri Abdurrahman melahirkan anak laki-laki, kami akan menyembelih kambing. Maka Aisyah berkata, “Tidak perlu, bahkan sunah (yaitu) dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Dimasak anggota badannya dan tidak dihancurkan tulang-tulangnya, lalu makan, dibagikan dan disadaqahkan. Hal itu dilakukan pada hari ke-7, jika tidak bisa pada hari ke-14, jika tidak bisa pada hari ke-21”. (HR Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, Nomor 1292)

Hadis Kedua:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «يُطْبَخُ جُدُولًا، وَلَا يُكْسَرُ مِنْهَا عَظْمٌ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah, dari Abdul Malik, dari Atha, dari Aisyah, ia berkata, “Dimasak seanggota-seanggota dan tidak dihancurkan tulangnya”. (HR Ibnu Abu Syaibah, Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, Nomor 24263)

Hadis Ketiga:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الشَّيْبَانِيُّ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنْبَأَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أُمِّ كُرْزٍ، وَأَبِي كُرْزٍ، قَالَا: نَذَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ آلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ نَحَرْنَا جَزُورًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «لَا بَلِ السُّنَّةُ أَفْضَلُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرَ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ، وَلْيَكُنْ ذَاكَ يَوْمَ السَّابِعِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Ya’qub as-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdullah, telah memberitakan Yazid bin Harun, telah memberitakan Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dari Atha, dari Ummu Kurz dan Abu Kurz, keduanya telah berkata; “Seorang perempuan dari keluarga Abdurrahman bin Abu Bakar bernazar jika istri Abdurrahman melahirkan, kami akan menyembelih kambing. Maka Aisyah berkata, “Tidak perlu, bahkan sunah lebih utama (yaitu) dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Dipotong-potong anggota badannya dan tidak dihancurkan tulang-tulangnya, lalu makan, dibagikan dan disadaqahkan. Lakukanlah itu pada hari ke-7, jika tidak bisa lakukanlah pada hari ke-14, jika tidak bisa lakukanlah pada hari ke-21”. (HR al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, Nomor 7595)

Hadis Keempat:

 أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنبأ أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، ثنا مُسَدَّدٌ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَامِرٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أُمِّ كُرْزٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ , وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “. قَالَ: وَكَانَ عَطَاءٌ يَقُولُ: تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرُ لَهَا عَظْمٌ. أَظُنُّهُ قَالَ: وَيُطْبَخُ. قَالَ: وَقَالَ عَطَاءٌ: إِذَا ذَبَحْتَ فَقُلْ: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ , هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلَانٍ. وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّهُ قَالَ فِي الْعَقِيقَةِ: يَقْطَعُ آرَابًا آرَابًا , وَيَطْبُخُ بِمَاءٍ وَمِلْحٍ , وَيُهْدِي فِي الْجِيرَانِ

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad bin Abdan, telah memberitakan Ahmad bin Ubaid, telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami abdul Waris, dari Amir al-Ahwal, dari Atha, dari Ummu Kurz radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Bayi laki-laki (aqiqahnya) dua kambing dan bayi perempuan (aqiqahnya) satu kambing”. Ia (Amir al-Ahwal) berkata, “Atha mengatakan; ‘Dipotong seanggota-seanggota dan tidak dipecah tulangnya, aku kira ia mengatakan; “Dan dimasak”. Ia berkata (lagi); “Dan Atha mengatakan, ‘Apabila kamu menyembelih, maka ucapkanlah ‘Bismillah wallahu Akbar, ini adalah aqiqah si fulan”. Sedangkan dalam riwayat Ibnu Juraij dari Atha, ia berkata tentang aqiqah, “Memotong seanggota-seanggota dan memasak dengan air dan garam serta menghadiahkannya kepada tetangga” (HR al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, nomor 19287)

Analisis Sanad

Riwayat-riwayat di atas dinyatakan bersumber dari Aisyah. Ini berarti riwayat tersebut termasuk mauquf.

Riwayat pertama, ketiga dan keempat diperoleh melalui jalur utama dari Atha, dari Ummu Kurz dan Abu Kurz, dari Aisyah. Pada jalur periwayatan ini terdapat inqitha’ (keterputusan) karena Atha tidak pernah menerima hadis apapun dari Ummu Kurz sebagaimana dinyatakan oleh para ulama ahli hadis, di antaranya Ali bin al-Madini yang menegaskan pernyataan sebagai berikut.

رَأَى ابْنَ عُمَرَ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ وَرَأَى أَبَا سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ وَ لاَ مِنْ أُمِّ سَلَمَةَ وَ لاَ مِنْ أُمِّ هَانِى وَ لاَ مِنْ أُمِّ كُرْزٍ شَيْئًا

Ia melihat Ibnu Umar dan ia tidak menerima hadis darinya. Melihat Abu Sa’id al-Khudriy dan thawaf di Baitullah dan ia pun tidak menerima hadis darinya. Ia tidak menerima hadis dari Zaid bin Khalid, Ummu Salamah, Ummu Hani, dan Ummu Kurz.

Analisis Matan

Dari segi matan (isi periwayatan), dari riwayat-riwayat tersebut ada kesimpangsiuran; yakni dalam riwayat pertama disebutkan “Yuthbakhu judulan” (dimasak seanggota-seanggota), sedangkan dalam riwayat ketiga dan keempat disebut dengan pernyataan “Tuqtha’u judulan” (dipotong seanggota-seanggota), padahal tiga riwayat ini menggambarkan peristiwa yang sama. Jadi, mana yang benar; dimasak atau dipotong? Sehingga Amir al-Ahwal sampai menyatakan “Aku kira Atha menyatakan; dimasak”.

Yang jelas dari riwayat-riwayat tersebut, baik kalimat ‘dimasak’ maupun ‘dipotong’ merupakan kalimat yang bersumber dari Atha yang mudraj (disisipkan) ke dalam riwayat Aisyah.

Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa memasak daging aqiqah itu bukan termasuk syari’at.*** Wallahu a’lam bis shawab.

© Copyright 2014 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps