Publikasi pada: Sel, 30 Jan 2018

Gerhana di Zaman Nabi: Memetik Wasiat Nabi

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…….

Saat terjadinya gerhana matahari di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di waktu Dhuha tersebut berbarengan dengan berita duka meninggalnya putra beliau yang bernama Ibrahim yang ibunya adalah Ummul Mukminin Mariyah Al-Qibthiyah. Masyarakat saat itu, mayoritasnya berpandangan bahwa dua kejadian ini saling berkaitan. Gerhana yang terjadi sesaat setelah meninggalnya putra Rasul, bagi mereka, seakan-akan menjadi pertanda besar sebagai isyarat atas berita duka yang mereka terima. Hingga tersebarlah suatu pandangan, bahwa gerhana itu bisa terjadi lantaran kematian seseorang atau kelahiran seseorang yang terhormat sebagai tanda penghormatan atas keagungan orang yang bersangkutan.

Saat tersebarnya pandangan seperti ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera bertindak untuk meluruskan salah pandang ini. Beliau menegaskan, sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, keduanya tidak terjadi gerhana hanya karena matinya seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat fenomena seperti itu, segeralah mengingat Allah Ta’ala, bertakbirlah, shalatlah, berdo’alah dan bershadaqahlah.

Sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meluruskan pandangan umat saat itu, sangatlah tepat dan cepat. Jika pandangan seperti ini dibiarkan berlalu begitu saja, maka pikiran Jahiliyah akan terus menyelimuti mereka. Karena hal itu termasuk zhannul Jahiliyyah (prasangka Jahiliyyah) yang tidak didasari oleh ilmu.

Cara pandang Jahiliyah seperti yang terjadi saat itu, ternyata bagi sebagian orang di masa kini masih tetap bercokol di benaknya. Mari kita perhatikan di sekeliling kita, termasuk pada diri kita masing-masing. Adakalanya, saat terjadi sesuatu pada diri kita seperti kelopak mata berkedip-kedip tanpa unsur kesengajaan, kadang terbersit di benak kita “Ada apa ini?” seakan-akan pikiran kita sedang menghubung-hubungkan kejadian tersebut dengan perkara lain menurut prasangka kita masing-masing. Dalam adat orangtua kita dulu, ada suatu pandangan bahwa, jika ada kupu-kupu yang masuk ke rumah, maka muncul pertanyaan “Siapa gerangan tamu yang akan datang hari ini?”. Padahal tak ada kaitan antara kupu-kupu dan datangnya tamu. Pikiran-pikiran takhayyul seperti itulah yang segera diluruskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya saat itu. Karena masalah ini merupakan masalah pokok dalam agama, yakni ketauhidan kita kepada Allah Ta’ala yang seringkali tak terasa sudah rusak dan lemah oleh pikiran-pikiran takhayyul dan khurafat yang merupakan bagian dari tradisi-tradisi Jahiliyyah, baik Jahiliyyah di masa lalu maupun Jahiliyyah di masa kini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah ……

Selain dari apa yang disampaikan tadi, begitu besar dan banyak hikmah yang kita dapatkan dari kejadian gerhana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan beberapa pengajaran dan peringatan kepada para sahabatnya yang, tentunya, menjadi pelajaran dan peringatan juga bagi kita hari ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ

“Hai ummat Muhammad! Demi Allah, tiada seorangpun yang lebih pencemburu daripada (kecemburuan) Allah. (Dia cemburu) hamba sahaya laki-laki dan hamba sahaya perempuan berzina”. (HR Al-Bukhari)

Apa yang dimaksud dengan kecemburuan Allah dalam makna lafadz hadits tersebut? Dalam riwayat lain dijelaskan:

مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَرَّمَ الفَوَاحِشَ

“Tiada seorangpun yang lebih pencemburu daripada (kecemburuan) Allah. Karena hal itulah, Dia mengharamkan perkara yang keji”. (HR Al-Bukhari)

Salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar bernama Sa’ad bin Ubadah pernah mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan.

لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِى لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفِـحٍ

“Jika aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya akan aku tebas dia dengan pedang tanpa ampun”.

Ketika sahabat-sahabat yang lainnya menjelaskan bahwa watak Sa’ad bin Ubadah memang pencemburu, seperti apa yang diisyaratkan dalam perkataannya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali perkataannya:

أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ لأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّى

“Apakah kalian merasa takjub atas kecemburuan Sa’ad (seperti itu)? Bahkan… Aku lebih pencemburu daripada dia, dan Allah lebih pencemburu daripada aku”.

Kecemburuan Allah, dalam ungkapan-ungkapan hadits tadi, maknanya adalah kemurkaan Allah atas perbuatan durhaka hamba-hamba-Nya. Artinya, Allah Ta’ala sangat murka jika ada seorang hamba (laki-laki atau perempuan) melakukan zina. Karena itulah, Allah Ta’ala telah mengharamkan perbuatan zina. Bahkan…. mendekatinya pun tidak diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS Al-Isra [17]: 32)

Perbuatan zina ini sudah tegas dinyatakan haram atas ketetapan Allah Ta’ala, tapi dalam kenyataannya masih banyak manusia yang mengindahkan pengharaman zina ini. Bahkan lebih dari itu, pintu gerbang legalisasi zina di zaman kaum Nabi Luth sudah mulai dibuka oleh para pembesar negeri, lalu apa yang akan terjadi? Allah Ta’ala mengingatkan:

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢٥

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS Al-Anfal [8]: 25)

Karena itulah, dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Siapa saja yang mendapatkan orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Nabi Luth (zina sesama jenis), maka bunuhlah pelakunya dan objek penderitanya”. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dengan kemurkaan-Nya itu, mengindikasikan bahwa Allah akan menghukum pelaku zina di dunia dan/atau di akhirat. Bila perbuatan zina telah menyebar luas dan tanpa dihiraukan oleh seluruh umat, dan Allah Ta’ala telah menunjukkan secara jelas dan terang tanda-tanda kekuasaan-Nya, sangat terbuka peluang turunnya adzab Allah Ta’ala yang akan menimpa kepada seluruh umat, bukan hanya orang-orang yang zalim saja.

Dengan kenyataan seperti inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginstruksikan kepada umatnya agar banyak beristighfar dan berdo’a agar mendapat perlindungan dari Allah dan agar selalu diberi kekuatan untuk siap melaksanakan ‘Amar bil Ma’ruf dan Nahyi ‘anil Munkar di manapun berada.

  

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah……

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi:

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Hai umat Muhammad! Demi Allah, jikalau kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan pasti banyak menangis”.

Pernyataan ini menjadi pertanda, bahwa ilmu yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih tinggi dari keilmuan yang kita miliki. Sehingga dengan itu, dalam kenyataan hidupnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak menangis daripada tertawa. Lebih banyak beribadah daripada berleha-leha. Lebih banyak mengingat Allah dan lebih bertakwa daripada umatnya sekalian. Dan sikapnya ini merupakan suri teladan terbaik bagi setiap orang yang mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala.

Salah satu hal yang jelas-jelas kita rasakan dalam kejadian gerhana ini adalah tiada rasa yang terbersit dalam diri kita untuk lebih takut kepada Allah Ta’ala. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرۡسِلَ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّآ أَن كَذَّبَ بِهَا ٱلۡأَوَّلُونَۚ وَءَاتَيۡنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبۡصِرَةٗ فَظَلَمُواْ بِهَاۚ وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفٗا ٥٩

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti”. (QS Al-Isra [17]: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun telah menyampaikan:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena kelahiran seseorang. Akan tetapi, dengan kejadian ini, Allah Ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya”. (HR Al-Bukhari dari Abu Bakrah)

Karena itu, bagi setiap muslim, wajib meyakini bahwa alam raya tidak berjalan dengan sendirinya. Ada Dzat, Maha Kuasa yang mengaturnya. Sehingga dalam melihat berbagai perubahan di alam raya, ia tak menilainya sebagai fenomena alam semata. Tapi lebih dari itu, ada Dzat (Allah Ta’ala) yang memerintahkan dan menghendakinya. Tentu dengan hikmah yang diinginkan oleh-Nya. Karena itu, menyikapi gerhana matahari atau bulan, bukan hanya dijadikan sebagai keta’ajuban akan fenomena alam sehingga dijadikan sebagai media rekreasi semata. Masih banyak yang tidak menyadari, ternyata gerhana adalah tanda-tanda yang Allah jadikan sebagai peringatan untuk para hamba-Nya. Barangkali dosa-dosa yang sudah disepelekan, kelalaian yang akut atau maksiat-maksiat lainnya yang sudah merajalela. Gerhana bukan suatu musibah, tetapi ia adalah pertanda atau peringatan untuk menakut-nakuti sebuah petaka atau bala’.

Untuk itulah, setiap muslim seharusnya terus menumbuhkan keimanan terhadap ke-Mahakuasaan-Nya. Dibuktikan dalam bentuk amal nyata, berupa mendirikan shalat, berdoa, banyak beristighfar kepada-Nya dan bershadaqah. Wallahu A’lam***.

أَقُوْلُ قَوْلِـيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِـيْ وَلَكُمْ

اَللهُ يَأْخُـُذ بِأَيْدِىنَا اِلَـى مَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلْإِسْلَامِ وَالْـمُسْلِـمِيْنَ

© Copyright 2018 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps