Publikasi pada: Sab, 22 Feb 2014

Hati-hati, Fitnah ‘Ammah

solusi masa depan anda

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak menimpa kepada orang-orang zalim di antara kamu saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah sangat keras siksaan-Nya”.

Demikian firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 25. Dia memperingatkan kepada orang-orang yang shalih agar berhati-hati dan waspada terhadap fitnah yang akan menimpa bukan hanya kepada orang yang berbuat zalim dan dosa saja, melainkan akan menimpa juga kepada orang-orang yang baik dan beriman.

Kata  Imam  al-Maraghi,  “Maksud  ayat  itu:  Berhati-hatilah  kamu  dengan  terjadinya  fitnah (bencana) yang tidak dikhususkan menimpa kepada orang yang berbuat  (dosa dan kesalahan), tetapi  akan  menimpa  juga  kepada  yang  lainnya  secara  umum.  Seperti  fitnah  kaumiyah (perpecahan kaum) yang terjadi di antara umat ketika berselisih tentang kemaslahatan umum berupa  kerajaan  (kekuasaan),  kepemimpinan  (suksesi)  atau  perpecahan  dalam  agama  dan syari’at,  serta  tercabik-cabiknya  umat  menjadi  beberapa  aliran  agama  dan  partai  politik. Demikian  juga  perkara  lainnya  berupa  merajalelanya  bid’ah  agama,  menurunnya  semangat jihad,  bersikap  diam  terhadap  kemungkaran  yang  terjadi  di  hadapannya,  serta  mengabaikan amr  bil  ma’ruf.  Demikian  juga  perkara  lain  berupa  berbagai  dosa  yang  secara  sunnatullah adzabnya akan  menimpa kepada umat-umat  di dunia  ini  sebelum  ditimpakan  (adzab  itu) di akhirat kelak”. (Tafsir al-Maraghi)

Makna Fitnah Dalam Ayat Al-Quran

Lafadz Fitnah dalam ayat-ayat al-Quran terdiri atas 30 lafadz yang merupakan bentuk mashdar dan 26 lafadz yang terambil dari derivasinya. Lafadz-lafadz tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Di antaranya, fitnah bisa bermakna ujian, cobaan, bencana, kesesatan, kemusyrikan, dan kekafiran.

Lalu apa makna fitnah dalam ayat di atas? Dari makna-makna yang tersirat, kiranya makna “bencana” lebih dekat pada maksud ayat tersebut. Dengan demikian, pesan dari ayat itu; “Berhati-hatilah terhadap bencana yang tidak menimpa kepada orang yang berbuat zalim saja, tetapi bencana itu dapat menimpa juga kepada orang-orang secara keseluruhan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah itu sangat pedih siksaan-Nya”.

Kehati-hatian terhadap bencana ini merupakan perintah Allah untuk memelihara diri agar bencana itu tidak sampai menimpanya dan agar orang-orang yang shalih terus berusaha supaya penyebab-penyebab datangnya bencana itu bisa diatasi sedini mungkin.

Penyebab Datangnya Fitnah (Bencana)

Keterangan dari Imam Al-Maraghi merupakan perkara-perkara yang menyebabkan datangnya bencana bagi umat manusia. Dan secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskannya. Dalam sebuah riwayat dinyatakan, Zainab binti Jahsyin pernah bertanya kepada Rasulullah. “Apakah kami bisa binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shalih?” tanya Zainab. Rasulullah menjawab, “Benar. Bila keburukan semakin banyak”.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mempertegasnya, “Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak bersikap diam terhadap kemungkaran yang terjadi di hadapannya. (Jika mereka berdiam diri) maka Allah akan menurunkan adzab kepada mereka secara umum. Adzab itu akan mengenai orang-orang yang dzalim dan orang-orang yang tidak dzalim”. (HR al-Baghawi)

Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi berbagai fitnah. Yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari kecil. Siapa saja yang berharap kemulyaan saat itu, maka ia harus mencari kemulyaan itu. Dan siapa saja yang mendapati kejadian itu, maka hendaklah ia berlindung diri. Karena adzab pasti datang”. (HR Abu Dawud)

Riwayat dari an-Nu’man bin Basyir memberi gambaran terang melalui perumpamaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan  orang  yang  menegakkan  hukum  Allah  dan  orang  yang  diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal.  Lalu sebagian dari mereka  ada  yang  mendapat  tempat  di  atas  dan  sebagian  lagi  di  bagian  bawah  perahu. Kemudian orang yang berada di bawah perahu, bila mereka mencari air untuk minum, mereka harus  melewati  orang-orang  yang  berada  di  bagian  atas  seraya  berkata;  “Seandainya  boleh kami  lubangi  saja  perahu  ini  untuk  mendapatkan  bagian  kami  sehingga  kami  tidak mengganggu orang yang berada di atas kami”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa  yang  diinginkan  orang-orang  yang  di  bawah  itu,  maka  mereka  akan  binasa  semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka, maka mereka akan selamat semuanya”. (HR al-Bukhari, Ahmad dan at-Tirmidzi)*** Wallahu A’lam bis shawab.

© Copyright 2014 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps