Publikasi pada: Rab, 6 Jun 2012

IDEALISME MORAL DAN KECERDASAN INTELEKTUAL

solusi masa depan anda

Perhatian terhadap pengembangan intelektualitas anak tidak serta merta mengabaikan kecerdasan-kecerdasan lain yang mungkin lebih berguna bagi masa depan anak itu sendiri. Howard Gardner pernah mengingatkan bahwa setiap manusia itu cerdas. Hanya sisi-sisi kecerdasannya saja yang berbeda. Ia memaparkan berbagai bentuk kecerdasan yang ada pada diri manusia, yang lebih dikenal dengan Multiple Intelegency, ‘Kecerdasan Majemuk’.

Akankah kita masih tetap terpaku pada satu ranah kecerdasan yang menjadi harapan besar kita untuk anak-anak di masa yang akan datang? Atau kita menelusuri kembali, kecerdasan manakah yang harus kita antarkan buat masa depan anak-anak kita?

A. Menjadi Powerfull Leaders Merupakan Sebuah Manifestasi dari Potensi Idealisme Moral

Hampir dapat dipastikan semua orang tentu dapat berhitung, menghafal rumus-rumus matematika, kimia, fisika, mengoperasikan komputer, atau bahkan melakukan perhitungan yang sangat rumit sekalipun, seperti perhitungan ROI (Return On Investment) yaitu perhitungan pengembalian investasi, dan perhitungan angka-angka lainnya.

Secara teori beruntunglah mereka yang memiliki kelebihan IQ di atas rata-rata di antara sekian banyak orang yang hanya memiliki IQ biasa-biasa saja. Sehingga banyak orangtua yang memiliki anak dengan IQ yang biasa-biasa saja, mencoba memaksakan obsesi dirinya pada anak-anaknya dengan mencetak anak-anak menjadi ‘budak belajar’ dengan mengikut sertakan anak-anaknya ke berbagai lembaga-lembaga pendidikan swasta yang membuka kelas ‘bimbel alias bimbingan belajar’ agar anaknya menjadi sangat mahir matematika, fisika, kimia dan bahasa, belum lagi les-les di luar mata pelajaran yang selalu dijejalkan pada anak, seperti les musik, renang, tari,bela diri, vokal dan lainnya. Semua hal ini dilakukan demi terlahirnya anak-anak super eksakta yang sangat kaku. Memang semua itu tidak ada salahnya dan sangat banyak keuntungannya, dengan begitu orangtua berharap anak-anaknya kelak menjadi teknorat-teknokrat yang patut diperhitungkan.

Namun dunia realitas berkata lain. Pasca hengkang dari bangku perkuliahan, anak-anak yang digodok dan digembleng sejak bangku sekolah dasar itu justru memiliki nasib yang berbanding terbalik dengan apa yang telah dicita-citakan oleh orangtuanya. Mereka malah tidak pernah meraih anagan-angan dari ilmu yang didapatnya. Sebaliknya, anak-anak yang terkategori sebagai anak yang memiliki IQ biasa-biasa saja dapat meraih kehidupan sosial ekonomi sampai ke puncak kesuksesannya. Sementara orang yang memiliki IQ melebihi rata-rata, cenderung dalam kehidupannya serba kaku, statis, tak dapat bergaul serta kurang ramah.

Kasuistis sederhana di atas merupakan satu sisi potret pendidikan orangtua pada anak-anaknya yang secara tidak langsung mendidik dan mencetak satu generasi yang terpasung dan terkerangkeng dalam satu keegoisan orangtua, atau lebih tepatnya telah terjadi pemerkosaan kreativitas anak.

Ada sebuah kisah lain yang tak kalah menariknya untuk disimak. Robert T. Kyosaki melalui salah satu buku best seller-nya, Richman Poorman, menceritakan suatu pengalaman dari seorang anak sekolah di Amerika Serikat. Anak tersebut bertanya kepada ibunya, “Kenapa saya selalu dituntut untuk mengikuti les berbagai mata pelajaran, musik, renang, komputer, bahasa serta seabreg aktivitas ekstra di luar sekolah?” Ibunya menjawab, “Karena agar kelak kamu dapat masuk ke perguruan tinggi yang terpandang, dan karena itu pula kamu tak akan sulit mencari pekerjaan serta kedudukan yang strategis, dan akhirnya kamu akan mendapatkan segala-galanya”. Begitulah jawaban sang ibu dengan berapi-api.

Namun anaknya sangat kecewa dengan jawaban itu. Dirinya malah menyanggah pernyataan ibunya dengan nada penuh protes, “Kenapa aku harus susah-susah sekolah, mengikuti berbagai eskul sedangkan banyak orang berhasil seperti Diego Maradona, Madona, Hitler, Mike Tyson, dan lainnya, yang tak mengenyam pendidikan tinggi. Mereka dapat berhasil dan terpandang ke seantero dunia”. Seketika itu sang ibu tak dapat menjawab lagi.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa keterpaduan antara IQ dan EQ sangat penting dimiliki oleh sang CEO (Chief Executive Officer). Ada beberapa hal lain yang patut menjadi perhatian khusus bagi sang CEO dalam menjalankan kepemimpinannya agar meraih sukses. Karena tak jarang bagi sang CEO yang telah berhasil dan mencapai puncak kesuksesan merasa hampa dan bertanya dalam benaknya “Apalagi setelah ini?”

Kehampaan jiwa yang bersemayam di hati sang CEO itu bukan hanya dimiliki oleh satu atau dua orang saja, tetapi sekian ribu bahkan jutaan CEO-CEO lainnya merasakan hal yang sama. Hitler, Musolini, Michael Jackson, Mike Tyson, Bill Gates, Michael Dell, Maradona, serta lainnya pernah merasakan kehampaan dalam pencapaian kesuksesannya. Hal ini wajar terjadi disebabkan ada satu komponen yang belum dimasukkan ke dalam frame of reference dalam diri seorang CEO. Komponen tersebut yaitu SQ, kemahiran mengolah spiritual dalam mendudukkan setiap gerak langkah dalam proses pencapaian kesuksesan. Ketika IQ dan SQ serta EQ digabungkan, ia akan melahirkan ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang pada kesimpulannya akan memaknai HIDUP LEBIH HIDUP atau mampu menjadi “Powerfull Learders”.

Ciri-ciri yang sangat penting dimiliki sang “Powerful Leaders” di antaranya yaitu :
1. Honest /kejujuran
2. Forward Looking/berpikiran maju ke depan
3. Inspiring/dapat memberi inspirasi baru dan segar
4. Competent/memiliki kompetensi yang handal
5. Intelligent/cerdas
6. Fair minded/adil dan terbuka
7. Broad minded/berpandangan luas
8. Supportive/mendukung
9. Dependable/dapat diandalkan
10. Cooperative/bekerjasama
11. Determined/tegas
12. Imaginative/berdaya imajinasi
13. Courageous/memiliki keberanian
14. Caring/perhatian
15. Mature/memiliki kematangan/kedewasaan berpikir/bertindak
16. Loyality/kesetiaan
17. Ambitious/memiliki ambisi positif
18. Self Controlled/penguasaan diri
19. Independent/memiliki kemandirian

Dengan kata lain, seorang CEO tidak akan berhasil dalam kepemimpinannya ketika dirinya tidak dapat menempatkan posisi dirinya pada orbit yang seharusnya. Sebagai bukti nyata, ESQ merupakan keyword dalam menjalankan kepemimpinan yang sukses ketika kita bertanya kepada orang-orang yang telah meraih sukses dengan sebuah pertanyaan yang sangat klasik tapi menentukan. Tanyakanlah pada mereka, “Apa yang paling berkesan dari perjalanan hidup Anda?” Dengan pertanyaan ini apakah mereka akan menjelaskan ketertekanannya dalam proses pencapaian kesuksesannya itu ataukah mereka akan bercerita tentang sisi jumlah kekayaan harta bendanya pasca mereka sukses?

Ary Ginanjar, seorang penulis buku Best Seller ESQ, dalam bukunya Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power Sebuah Inner Journey Al-Ihsan, berpendapat bahwa sepakat ataupun tidak tentunya kita baik sebagai pendengar ataukah yang menjadi nara sumber akan lebih senang membahas seluk beluk atau liku-liku perjuangan yang sangat pahit demi mencapai kesuksesan dibanding menghitung kekayaan yang telah diraihnya.

Masih dalam bukunya, Ary berujar bahwa masuklah ke dalam garis orbit spiritual, berusahalah untuk tetap berada pada posisi tersebut! Jangan mencoba untuk keluar dari padanya! Kesimpulannya, kesuksesan bukanlah sebuah tujuan akhir akan tetapi nampaknya hanya sebuah proses dari tujuan akhir kita menuju kebahagiaan syumuli. Karena seperti diungkapkan oleh Konosuke Matsushita, seorang pendiri dan pemimpin perusahaan raksasa kelas dunia Grup Matsushita, dalam motto bisnisnya berujar “Life isn’t only fir bread” (hidup ini bukanlah sekedar untuk sepotong roti). Atau seperti diungkap juga oleh Soichiro, pendiri Honda Motor yang telah memimpin 43 perusahaan di 28 negera ini, motto bisnisnya sangat sederhana sekali bahwa cara hidup kepemimpinan itu amatlah sederhana yaitu “memandang rendah kemewahan”.

B. Upaya Penerapan Kecerdasan Intelektual dalam Organisasi Merupakan Salah Satu Proses Demokratisasi dalam Kepemimpinan Islam

Banyak kaum Muslim yang memandang tradisi-tradisi Islam awal sebagai bagian dari ajaran keagamaan, sehingga tipikal mereka meniru gaya hidup muslim masa lalu, dan tidak berupaya membangun model baru yang didasarkan pada ajaran-ajaran pokok Islam dan realitas kehidupan modern.

Di satu sisi arti kehadiran Islam tidak bisa dilihat secara kasat mata dari perilaku dan pemahaman serta wacana kaum muslimin saja, tetapi dilain sisi, hal itu pun tak begitu saja dapat dikesampingkan dalam proses pemodernan pola pikir umatnya.

Kebangkitan Islam dan Demokratisasi di dunia Muslim berlangsung dalam konteks global yang dinamis. Di pelbagai belahan dunia, orang beramai-ramai menyerukan kebangkitan agama dan demokratisasi, sehingga keduanya menjadi tema sentral dalam persoalan dunia.

Namun, disisi lain, dalam pandangan para pendukung demokratisasi univesal, kedua dinamika itu (dunia Islam dan demokrasi) tetap saling berlawanan. Jika meminjam istilah Samuel Huntington, bahwa ditengah arus besar “gelombang demokrasi ketiga” Islam dianggap sebagai perkecualian. Hal ini, kiranya persoalan yang cukup jelimet yang harus kita dudukan secara proporsional keberadaannya.

Terkadang, tak sedikit orang yang ketika menggunakan istilah demokrasi acapkali memaknai dengan konotasi yang negatif yang mengarah kepada keadaan yang incompataible (tidak serasi/cocok) antara demokrasi dengan Islam. Sehingga yang terjadi, muncul prediksi-prediksi yang menggambarkan Islam dengan demokrasi itu ibarat “panggang jauh dari apinya”, yang akhirnya seakan kita dilarang untuk menyentuh sama sekali demokrasi tersebut.

Kemunculan perhelatan yang sangat sengit antara kelompok yang kontra akan demokratisasi dengan kelompok yang pro akan demokratisasi dalam Islam, yaitu tatkala sebuah definisi umum seperti yang diungkapkan salah satu pemikir muslim yang cukup kawakan diluncurkan, seperti diungkap Dr. Ali Nawaz Memon, bahwa menurut beliau, demokrasi dicirikan oleh hak-hak dan kewajiban yang formal, dimana suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaan tertingginya berada ditangan rakyat, dilaksanakan secara langsung oleh mereka, atau oleh wakil rakyat dalam sebuah sistem pemilu yang bebas tapi rahasia”.

Pandangan atau pernyataan demikian tentunya sangat memicu serta memacu para mullah atau kaum tradisionalis Islam, yang sangat keberatan dengan definisi tersebut di atas. Karena apa? Mereka khawatir hal tersebut akan berimplikasi tercurinya kekuasaan Tuhan yang sudah jelas absolutismenya. Padahal mereka (kaum muslim tradisional) mungkin lupa, bahwa hukum-hukum Tuhan tersebut harus ada yang mengimplementasikannya.

Mempertegas serta memperjelas pendapatnya Dr. Ali Nawaz Memon, seorang sarjana muslim yang sangat terpandang , Dr. Imad ad-Dean Ahmad, mengungkapkan, justru Islam dengan demokrasi itu bukan sesuai lagi malah Islamlah yang pertama kali memperkenalkan demokratisasi, karena persamaan formal di hadapan hukum, merupakan salah satu frame of mindnya CEO dalam Islam.

Masih menurutnya, dalam bukunya yang berjudul Islam and the Discovery of Freedom, Imad mengungkapkan, “jika kita menoleh ke belakang (masa Yunani Kuno dan Romawi), kita tahu bahwa Yunani mendefinisikan demokrasi sebagai “kekuasaan dari rakyat”, akan tetapi pada realitas sosial yang nampak adalah diskriminasi kebebasan atau lebih kepada pembelengguan, dimana hanya fraksi masyarakat saja yang diakui sebagai warga negara sementara yang lainnya hanyalah budak atau kelompok tertindas.

Bahkan sekaliber Plato pun yang katanya dianggap sebagai founding father ide-ide modern masih memiliki satu kepercayaan adanya tiga kelompok kelas manusia : manusia emas, perak serta kuningan.
Karena itu, alangkah sangat keliru ketika demokrasi diartikan bahwa rakyat adalah pembuat hukum, karena hukum itu sudah jelas turun dari sang Khaliq, sementara manusia hanyalah mengejawantahkan hukum-hukum tersebut ke dalam bahasa manusia.

Inti persoalannya, demokratisasi dalam Islam harus lebih mengarah kepada pencerahan pemikiran yang jumud serta juga menghindari pemikiran yang kebablasan. Lebih eksplisitnya jangan sampai kita menutup pintu ijtihad serta membuka kran pembaharuan dalam berbagai aspek.

Kiranya tak berlebihan jika kita berasumsi bahwa pendemokratisasian Islam sebenarnya dapat terealisasikan dengan mengalir, hal ini dapat kita buktikan dengan lagi-lagi melihat kembali pada sejarah, dimana paham wahabiyah tatkala membumi di nusantara, yang pada awalnya sangat ditentang sekali oleh kaum tradisional. Namun searah berjalannya waktu serta banyaknya pencerahan pemikiran dari berbagai displin keilmuan paham tersebut diterima, bahkan menjadi kiblat sebagian tokoh salafi ketika itu, figuritas yang cocok untuk mencontohkan ketokohan kaum modernis yang tak lupa tradisionalis yaitu KH. Ali Yafie, dirinya dapat -memposisikan diri- kapan ia harus menjadi modernis dan kapan ia menjadi intelektualis pesantren tulen walaupun harus dimunculkan ditengah-tengah kaum yang sangat liberalis. sehingga mengubah corak keagamaan kaum muslimin sampai saat ini.

Gambaran yang sangat jelas jika demokrasi itu memang compaitable dengan Islam yaitu tatkala Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dilantik sebagai khalifah, dalam pidato sambutannya yang pertama, khalifah Abu Bkar Ash-Shiddiq r.a. mengungkapkan, bahwa memang benar dirinya telah diangkat menjadi seorang amir, tetapi saya bukanlah yang terbaik di antara kalian,apabila saya mengambil satu keputusan atau mengeluarkan perintah yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka taatilah, akan tetapi jika bersimpangan maka koreksilah”.

Jika keberadaan demokratisasi dalam Islam sedemikian simpelnya, maka tak ayal lagi jika proses kedewasaan umat dalam menghadapi modernisasi serta liberalisasi tidak terlalu bermasalah. Hanya jangan sampai disalah artikan dalam memahami modernisasi serta liberalisasi disini, alih-alih akan keluar dari frame of mindnya seorang CEO yang memegang ESQ.

Pentingnya demokrasi dalam Islam serta seperangkat komponenya, dimaksudkan sebagai check and balance bagi keberlangsungan dalam sebuah kepemimpinan dalam Islam.Dengan kata lain, demokratisasi merupakan ssitem yang mewajibkan adanya oposisi dalam kepemimpinan, agar terjadinya controling.

Ringkasnya, Prof. DR. Abdel Wahab El-Affendi berpendapat bahwa, supaya demokrasi tidak kabur pendefinisiannya, maka ia mengambil sebuah jalan tengah akan hal itu sesuai dengan parameter yang telah disepakati oleh National Endowment for Democracy (NED) yaitu : Demokrasi melibatkan hak rakyat secara bebas untuk menentukan nasibnya sendiri, bahwa penggunaan hak ini harus membutuhkan suatu sistem yang menjamin kekebasan berekspresi, berkeyakinan dan berkumpul, pemilu yang bebas kompetitif, penghargaan terhadap hak-hak asasi individu dan minoritas, media komunikasi yang bebas, serta sistem ini dapat menjamin penegakkan hukum, juga dapat disesuaikan dengan kondisi daerah tertentu dan tradisi tertentu pula, yang justru keberadaan ekonomi, politik serta kultural yang otonom merupakan fondasi yang kuat dalam proses demokrasi yang menjamin kebebasan individu.*** Wallahu A’lam bi Ash-Shawab. | Rudi Rusyana

*) Penulis adalah staf Pengajar di STAI DR.KHEZ.Muttaqien Purwakarta sekaligus sebagai pengamata pendidikan Purwakarta.

Reference :
Benard Lewis, Islam Leberalisme Demokrasi, et.al,2002,Paramadina,Jkt
Azyumardi Azra Islam Substantif, ,2000,Mizan,Bdg
Ary Ginanjar Agustian Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, ,2001,Arga,Jkt
Tariq Ramdan, Menjadi Modern Bersama Islam, ,Mizan,2003,Bdg
Mastuki HS, M Ag , Inteletualisme Pesantren, et.al,2003,Diva Pustaka,Jkt

© Copyright 2012 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps