Publikasi pada: Sel, 22 Sep 2015

Liberalisme Gaya Baru

solusi masa depan anda

Tersebutlah seorang alumni IAIN (Sekarang: UIN) Wali Songo – Semarang, namanya Ahmad Fauzi, kini dia mulai gembor-gembor gaya pemikiran Liberal dengan modus yang baru yakni berupa hujatan kepada Nabi Ibrahim as. Dalam bukunya dengan judul Tragedi Incest Adam & Hawa dan Nabi Kriminal ia menguraikan hujatannya.

Dalam akun facebooknya pun, ia sampai-sampai berani menyatakan “Apakah kita menyadari bahwa ritual idul adha yang disucikan oleh umat Islam sebenarnya merupakan peringatan dan pengulangan atas tindak kriminal nabi Ibrahim dengan melakukan percobaan pembunuhan atas anaknya sendiri. Ibrahim tertipu oleh mimpinya dengan menganggap itu salah satu bentuk manifestasi perintah tuhan, padahal sebenarnya gambaran dalam mimpinya tersebut adalah delusi yg tercipta dr rasa kebencian oedipus complex dalam alam bawah sadarnya sendiri. Bolehkan penulis menyebut Ibrahim sebagai Nabi Kriminal yg mengidap delusi akut?”.

Terkait dengan mimpi sebagai bagian dari proses pewahyuan, tentunya dengan kategori ar-ru’ya as-shadiqah (mimpi yang benar, bukan mimpi biasa), bukan hanya dialami oleh Nabi Ibrahim as saja melainkan beberapa Nabi pun mengalaminya. Contohnya, bagaimana mimpi Nabi Yusuf ternyata adalah benar terbukti di kemudian hari atau bagaimana Rasulullah Saw mengawali kenabiannya melalui proses mimpi yang benar itu.

Bila mimpi Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sebuah delusi yang mengantarkan pada percobaan pembunuhan atas anaknya sendiri, kenapa ketika hal itu tidak terjadi Sang Nabi tidak pernah berencana untuk melakukan pembunuhan tersebut. Bukankah ini sebagai bukti, bahwa apa yang ada dalam mimpinya itu bukan sebuah delusi melainkan mimpi yang benar.

Tentang realitas mimpi dalam kehidupan umat manusia, indospiritual.com menguraikan,

Betulkah mimpi merupakan bahasa sandi dari Tuhan yang berkehendak untuk berkomunikasi dengan manusia? Jika demikian, apakah semua mimpi memiliki makna tertentu?

Banyak ragam pandangan orang mengenai mimpi. Ada yang mengatakan mimpi itu bunga tidur, mimpi dianggap sebagai harapan yang tidak kesampaian, bahkan ada yang beranggapan bahwa mimpi tidak memiliki arti. Ada pula yang menyatakan bahwa mimpi merupakan jalan utama atau jalan emas untuk memasuki dunia batin atau hati nurani kita.

Sejarah menemukan bahwa buku tafsir mimpi tertua telah ditulis tahun 1100 SM. Untungnya sebagian ilmuwan memiliki ketertarikan mengenai mimpi, sehingga antara lain berdiri Institut Carl Gustav Jung di Zurich, Swiss, yang mempelajari mimpi sehingga dapat dipahami secara ilmiah.

Menurut Wolfgang Bock, SJ, yang pernah belajar di Institut Jung tersebut, salah satu fungsi mimpi adalah mengangkat pikiran, khayalan,dan hasrat hati manusia yang dalam hidup sadar kurang diperhatikan. Karena itu, mimpi juga memiliki motif menyeimbangkan kondisi pribadi supaya kepribadian seseorang tidak tumbuh pincang.

“Suka atau tidak suka, mimpi itu mengingatkan Anda, supaya Anda mau melihat kebenaran. Kadang kebenaran itu ditayangkan dengan cara amat mengejutkan, supaya diperhatikan,” tulis Bock dalam bukunya, Menafsir Mimpi, Bahasa Sandi Tuhan.

Mimpi juga menambah pengetahuan vital, agar kita dapat memperbaiki sikap terhadap seluruh kehidupan dan situasi nyata yang dihadapi, ungkap Bock lagi. Melalui mimpi, bawah sadar kita akan memainkan tugas membimbing dan merencanakan, guna memberi arah lebih baik kepada sikap dan pendirian pikiran  alam sadar.

Alam pikiran sadar kita seringkali tidak mau atau tidak ingin memahami persoalan apa adanya. Namun, melalui mimpi, kemampuan kita untuk menipu diri dan berpura-pura akan dijungkir balikkan, sehingga kita dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya.

Tepat apa yang dituliskan Pastor J. Darminta, Si, mimpi bisa mengungkapkan alam spriritual kita, kerinduan dan perjumpaan kita dengan Allah, alam kejiwaan kita dengan segala pergulatan-pergulatan hidup, serta peristiwa dan tindakan hidup kita sehari-hari.

Perlu dipahami, mimpi merupakan salah satu bentuk bahasa hidup, seperti halnya bahasa rasa, bahasa hati, bahasa budi, bahasa rohani, bahasa tubuh, dan sebagainya. Sejak zaman para nabi dulu mimpi telah diyakini sebagai salah satu cara Tuhan menyampai pesan.

Melalui mimpi, menurut Bock, Allah hendak bergaul dengan manusia dan menuangkan nilai-nilai baru, kekuatan, dan kasih sayang yang berlimpah ke dalam hati kita.

© Copyright 2015 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps