Publikasi pada: Sab, 8 Okt 2016

Makna Ulil Amri

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

    Ulil Amri, secara kebahasaan mengandung arti “orang yang berwenang dalam suatu urusan”. Dalam bahasa yang umum, lafadz ini sering diartikan sebagai “pemimpin” sehingga kaum muslimin bersepakat bahwa ayat ini secara jelas menun­juk­kan kewajiban taat kepada se­orang pemimpin. Sedangkan pemimpin yang dimaksud adalah orang yang memimpin suatu masyarakat atau umat.
Lalu bagaimana penjelasan para ahli tafsir ?
Imam Al-Maraghi menyampai­kan, bahwa ulil amri adalah para amir (pemimpin suatu umat), para praktisi hukum, para ulama, para pimpinan pasukan, dan seluruh pemimpin serta zu’ama yang menjadi nara sumber masyarakat dalam berbagai kebutuhan dan kemaslahatan umum. Bila mereka sudah bersepakat dalam suatu urusan dan suatu hukum, maka mereka itu wajib ditaati dengan syarat; (1) mereka itu harus orang-orang yang bersifat amanah (terhadap segala urusan yang menjadi tanggungjawabnya); dan (2) tidak menyimpang dari perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya yang telah diketahui secara mutawatir; dan (3) mereka itu harus orang-orang terpilih dalam membahas suatu urusan dan bersepakat dalam hal itu.
Sementara itu, Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa menurut Jabir bin Abdullah, Mujahid dan Imam Malik, ulil amri itu adalah orang-orang yang ahli Qur’an dan ahli ilmu. Seiring dengan itu, Imam ad-Dhahak menyebutkan bahwa ulil amri itu adalah ahli fikih dan ulama dalam perkara agama. Ibnu Kaisan menuturkan bahwa ulil amri adalah orang-orang yang menggunakan akal dan pandangannya dalam merenungkan segala urusan manusia.
Dari beberapa pandangan yang dikutipnya, Imam al-Qurthubi lebih condong untuk menyetujui pengerti­an yang pertama dan kedua. Alasannya, menurut pengertian yang pertama (ahli qur’an dan ilmu), yang menjadi pokok urusan atau perkara suatu umat berasal dari mereka dan putusan hukumnya akan kembali juga kepada mereka.
Sedangkan pengertian yang kedua (ahli fikih dan ulama dalam perkara agama), keabsahannya ditunjukkan oleh lafadz ayat berikut­nya, yakni “Jika kalian berselisih dalam suatu urusan, maka kembali­kanlah (pe­nye­le­saian­nya) kepada Allah dan Rasul”. Dengan ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan agar mengembalikan (penyele­saian) dari perselisihan mereka kepada kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Selain dari ulama, tidak ada orang yang dapat mengetahui cara menyelesai­kan suatu perkara kepada kitab (Al-Qur’an) dan sunnah.
Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata: “Tiada hentinya manusia berada dalam kebaikan selama mereka menghormati pimpinan (sultan) dan ulama. Jika mereka menghormati keduanya, maka Allah akan memberikan kemaslahatan kepada mereka di dunia dan akhirat. Dan jika mereka merendahkan keduanya, maka Allah akan menurunkan mafsadat (kerusakan) pada kehidupan dunia dan akhirat mereka itu”. (Tafsir al-Qurthubi) ***

© Copyright 2016 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps