Publikasi pada: Ming, 7 Apr 2013

Nikah Mut’ah Dalam Ajaran Syi’ah

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Salah satu issu penting perbedaan antara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan kaum Syi’ah adalah paradigma tentang status hukum nikah Mut’ah. Sebagaimana kita ketahui bersama, nikah Mut’ah adalah suatu model pernikahan yang dilakukan selama beberapa hari yang ditentukan berdasarkan kesepakatan antara dua pasangan dengan ajr (mahar) tertentu. Dalam istilah lain, pernikahan model ini dikenal juga dengan sebutan “Nikah Kontrak”.

Sesungguhnya dalam ajaran Syi’ah, nikah Mut’ah ini merupakan pernikahan yang status hukumnya antara wajib dan sunnat [mustahab] 1]. Syekh Al-Mufid, seorang ulama masyhur di kalangan mereka, menyusun dalil-dalil yang ia rangkum dari kitab karya Al-Majlisi. Dalam kitabnya itu, dengan judul Risalah al-Mut’ah, Syekh Mufid mengumpulkan sebanyak 43 dalil yang menunjukkan wajibnya nikah Mut’ah. Semua riwayat yang ia susun berujung pada pernyataan yang disandarkan atas nama Abu ‘Abdillah, Al-Baqir, Abu Ja’far, Abu al-Hasan Musa bin Ja’far, Muhammad bin Muslim, dan Abu Ja’far Muhtad bin Ali. Dari semua riwayat itu tidak ada yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kecuali satu riwayat dari Al-Baqir yang menyatakan bahwa ketentuan Mut’ah ini ditetapkan saat terjadinya Isra. Ditinjau dari segi silsilah periwayatan, riwayat tersebut merupakan riwayat yang terputus, karena tidak jelas sumber periwayatan antara masa Al-Baqir sampai masa Rasulullah Saw.

Di antara ringkasan isi riwayat-riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Atas nama Abu Abdillah: “Disukai jika seseorang melakukan nikah Mut’ah dan aku tidak suka seseorang di antara kalian keluar dari dunia (mati) sehingga ia menikah Mut’ah dulu walaupun satu kali”.
  2. Atas nama As-Shadiq: “Aku benci seseorang yang keluar dari dunia (mati) sementara masih tersisa sisi-sisi [sunnah] Rasul yang belum terlaksanakan olehnya”.
  3. Atas nama Abu Abdillah kepada Muhammad bin Muslim: “Apakah kamu sudah nikah Mut’ah?” Jawabnya: “Tidak”. Ia pun berkata: “Janganlah kamu keluar dari dunia (mati) sampai kamu menghidupkan sunnah”.
  4. Atas nama Al-Baqir ketika ditanya oleh ‘Uqbah, “Apakah Mut’ah itu ada pahalanya?”. Jawabnya: “Jika ia melakukan itu mengharapkan [ridha] Allah dan menentang si Fulan 2] , maka tiada satu kalimat pun yang ia ucapkan kecuali Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan…”.
  5. Atas nama As-Shadiq: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada Syi’ah kami dari setiap [minuman] yang memabukkan dan Dia menggantikan hal itu dengan nikah Mut’ah”.
  6. Atas nama Al-Baqir, ketika Allah memperjalankan Rasulullah Saw (Isra) ke langit, Jibril menemuinya dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang-orang yang nikah Mut’ah”.
  7. Atas nama Abu al-Hasan Musa bin Ja’far: “Ucapan paling rendah yang mendapat pahala adalah aku menikahimu dengan Mut’ah atas dasar Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan [mahar] sedemikian sampai [waktu] sekian”.
  8. Atas nama Abu Abdillah: “Tidak apa-apa menikahi wanita lajang, jika ia ridha, tanpa izin bapaknya”.
  9. Atas nama Abu Abdillah: “Tidak ada Mut’ah kecuali dengan dua perkara (yaitu) waktu yang ditentukan dan mahar yang ditentukan”.
  10. Atas nama Muhammad bin Muslim: “[Mut’ah] Itu bukan termasuk yang empat (batasan istri dalam Nikah Permanen). Karena sesungguhnya Mut’ah itu tidak ada thalaq dan tidak ada waris”.

Di Balik Pertentangan Riwayat Sunni

Untuk melancarkan paradigma berdasarkan riwayat-riwayat di atas ke kalangan umum (masyarakat Ahlus Sunnah), sebenarnya kaum Syiah terjegal oleh riwayat shahih dari Ahlus Sunnah. Dalam riwayat-riwayat shahih tersebut dinyatakan bahwa status hukum nikah Mut’ah, seperti halnya proses penetapan syariat haramnya minuman yang memabukkan, berlaku melalui penetapan syariat secara bertahap; yakni sebagai berikut:

1. Pada awalnya, nikah Mut’ah merupakan nikah yang diharamkan. Keterangan ini berdasar pada makna ayat al-Quran Surat Al-Mukminun ayat 5 -7:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya [5] Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela [6] Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas [7]”.

Dalam ayat ini, pernikahan yang sah dilakukan dalam Islam hanya dua bentuk, yaitu Nikah Permanen atau menikahi hamba sahaya. Akad selain untuk dua perkara ini adalah haram atau dalam istilah ayat di atas disebut dengan kata-kata “melampaui batas”.

2. Kemudian nikah Mut’ah dirukhsohkan (diperbolehkan untuk sementara waktu), terutama ketika keinginan menikah sangat besar tetapi keadaannya dharurat karena sedang melaksanakan syariat perang. Keterangan ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Mas’ud yang pernah mengajukan untuk berkebiri (vasektomi) yang tidak diizinkan oleh Nabi Saw. Lalu beliau memperbolehkan Ibnu Mas’ud untuk melakukan Mut’ah. Kebolehan Mut’ah pada masa-masa ini tidak dibatasi. Artinya, ketika perjanjian sudah selesai, maka jika mau menambah waktu, dilakukan lagi kesepakatan antara pasangan tersebut.

3. Setelah rukhsoh tersebut, lalu nikah Mut’ah kembali ke hukum asal, yakni haram. Ketetapan haram ini dinyatakan oleh Nabi Saw pada saat perang Khaibar sebagai pemberitahuan kepada para sahabat bahwa pada saat perang ini tidak boleh Mut’ah.

4. Pada waktu Futuh Mekah, Nabi Saw mengizinkan lagi nikah Mut’ah hanya untuk tiga hari.

5. Sebelum keluar dari Mekah pada saat Futuh tersebut, Rasulullah Saw menegaskan bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla telah menetapkan haramnya Mut’ah sampai hari kiamat.

Akan tetapi, selain riwayat-riwayat shahih yang dirangkum kesimpulannya melalui 5 point di atas, ternyata banyak riwayat dhaif yang “bertentangan” atau “berbeda” dengan riwayat-riwayat tersebut, terutama adanya tambahan waktu selain dari Khaibar dan Futuh Mekah. Dalam riwayat lain tersebut dinyatakan juga bahwa Nabi Saw pernah melarang Mut’ah pada waktu ‘Umratul Qadha, perang Hunain, perang Tabuk, dan Hajjatul Wada.

Nah, banyaknya riwayat ini dijadikan “peluru” oleh kaum Syiah untuk mengritik paradigma haramnya Mut’ah menurut Ahlus Sunnah tanpa memedulikan dhaifnya riwayat-riwayat tersebut. Bahkan riwayat yang tidak berkesesuaian pun ikut serta dijadikan dalil. Yang dimaksud dengan riwayat yang tidak sesuai itu adalah pernyataan mereka bahwa berdasarkan riwayat Imran bin Hushain dalam Shahih al-Bukhari, “Telah turun ayat Mut’ah dalam Kitab Allah (Al-Quran), dan kami melaksanakannya bersama Rasulullah Saw. Maka tidak ada ayat [Quran] yang turun menghapus [hukum]-nya dan Nabi Saw tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat”.

Jika kita cermati, riwayat dari Imran bin Hushain itu bukan menyatakan masalah Nikah Mut’ah, tetapi yang dimaksud adalah Mut’ah dalam ibadah haji yang kini kita kenal dengan istilah “Haji Tamattu”.

Selain dari itu, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan sahabat pun turut serta jadi ‘pijakan’ dalil untuk menetapkan halalnya Mut’ah tanpa memperhatikan bagaimana titik akhir dari perbedaan tersebut. Misalnya, Ibnu Abbas pernah menyatakan bolehnya Mut’ah diqiaskan kepada bolehnya makan bangkai dan daging babi ketika dharurat. Kemudian pandangannya itu dikoreksi oleh Ali bin Abu Thalib yang menyatakan haramnya Mut’ah. Akhirnya, Ibnu Abbas kembali kepada hukum asal yakni haram, terutama ketika banyak orang yang memanfaatkan fatwa Ibnu Abbas tersebut.

(……. bersambung)

___________________

1] Disebut hukum antara wajib dan sunnat karena lafadz periwayatannya mengandung kerancuan, atau mungkin termasuk dalam kategori Sunnat Muakkadat. Misalnya dalam salah satu riwayat atas nama Abu Abdillah disebutkan: Disukai [Yustahabbu] jika seseorang melakukan nikah Mut’ah dan aku tidak suka seseorang di antara kalian keluar dari dunia (mati) sehingga ia menikah Mut’ah dulu walaupun satu kali. Lafadz Yustahabbu biasanya digunakan untuk status hukum Sunnat, tetapi di akhir riwayat ini ada isyarat wajib dengan lafadz walaupun satu kali.

2] Mungkin yang dimaksud si Fulan di sini adalah Umar bin al-Khattab yang menurut anggapan mereka telah mengharamkan nikah Mut’ah berdasarkan pikirannya sendiri.

© Copyright 2013 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps