Publikasi pada: Rab, 26 Feb 2014

Prinsip Ibadah dalam Islam

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Ibadah merupakan amal nyata dalam kehidupan setiap insan untuk mencapai kebahagiaan di negeri akhirat. Setiap orang, dari agama apapun ia berasal, dalam amal kehidupannya akan selalu ada amal-amal nyata yang ditujukan sebagai ibadah. Karena setiap agama berbeda dalam tata aturan dan aplikasi bentuk ketaatannya, maka demikian juga dalam hal ibadah dan prinsip-prinsipnya. Lalu bagaimana ibadah menurut Islam? Dan bagaimana pula Islam menetapkan standarisasi prinsip-prinsip ibadahnya?

Ibadah merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab. Arti dan maknanya dapat diperoleh melalui asal mula bahasa itu diambil. Dalam bahasa Arab, ibadah berasal dari kata-kata ‘abada — ya’budu — ibadat(an) yang secara kebahasaan bermakna al-khudhu’ (tunduk, patuh) dan at-tadzallul (merendah diri).

Ibadah dalam makna al-khudhu’ berarti suatu ketundukan dan kepatuhan kepada Yang Diibadahi (al-ma’bud). Dalam arti ini, ada 3 unsur yang melingkupinya, yakni; orang yang beribadah (mukallaf), yang diibadahi (Tuhan), dan apa yang dipatuhinya (ketentuan, perintah, larangan, dan pesan-pesan lain yang telah ada dari Tuhan yang diibadahinya). Implikasi dari makna ini, suatu amal atau perbuatan tidak akan disebut sebagai ibadah jika Tuhan yang diibadahi tidak pernah menetapkan ‘amal’ tersebut.

Sedangkan ibadah dalam makna at-tadzallul berarti suatu sikap ‘merendah diri’ dalam mewujudkan ketundukan dan kepatuhan terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang diibadahi. Melalui makna ini, orang yang beribadah harus menghindari sikap-sikap yang tidak menunjukkan kerendah-diriannya di hadapan Tuhan, seperti sikap takabbur (angkuh), malas dan keterpaksaan.

Dengan demikian, makna ibadah dalam tinjauan bahasa ini mengisyaratkan adanya ketundukan dan kepatuhan terhadap suatu aturan dan ketetapan dari Tuhan yang diwujudkan dengan sikap rendah diri dan keseriusan.

Adapun ibadah dalam pengertian secara istilah (terminologis), para ulama mengungkapkannya dengan berbagai variasi ungkapan yang tertuju pada pengertian bahasa sebagaimana dinyatakan di atas.

Imam al-Maraghi, di antaranya, menegaskan makna ibadah sebagai berikut.

اَلْعِــبَادَةُ هِيَ خُضُوْعٌ يَنْـشَأُ عَنِ اسْتِــشْـعَارِ الْـقَـلْبِ بِــعُظْمَةِ الْمَـعْــبُــوْدِ اِعْـــتِــقَـادًا بِأَنَّ لَهُ سُلْطَانًا لَا يُدْرِكُ الْـعَـقْلُ حَـقِـيْـقَــتَــهُ لِأَنَّهُ أَعْلَى مِنْ أَنْ يُحِــيْطَ بِهِ فِكْرُهُ، أَوْ يَرْقَى إِلَيْهِ إِدْرَاكُهُ

Ibadah adalah ketundukan yang tumbuh dari rasa mendalam dari hati terhadap keagungan yang diibadahi dengan keyakinan bahwa yang diibadahi itu memiliki kekuasaan yang hakikatnya tidak dapat terjangkau oleh akal, karena Dia lebih tinggi daripada sesuatu yang dapat tercapai oleh pikiran dan (lebih tinggi daripada) sesuatu yang dapat terjangkau oleh pengetahuan. (Tafsir al-Maraghi, surat al-Fatihah)

© Copyright 2014 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps