Publikasi pada: Rab, 6 Jul 2016

Renungan ‘Iedul Fithri

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Sebuah kesempatan mendapat karunia, berkah dan maghfirah istimewa dari Allah SWT telah berlalu. Rasulullah Saw pernah menyampaikan bahwa tatkala datang bulan Ramadhan, malaikat menyeru “Hai para pencari kebenaran dan kebaikan, bergembiralah. Hai para pencari dan pelaku kejahatan/keburukan, rasakanlah kesempitan”.

Kegembiraan bagi para pencari kebaikan terletak pada terbukanya kesempatan yang luas untuk berbuat kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Namun, kebaikan istimewa apakah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita? Mari kita hisab dan hitung amalan kita kemarin. Begitu luasnya kesempatan yang Allah berikan, bisa jadi telah banyak pula yang kita abaikan. Ucapan istighfar lebih layak kita haturkan ketika ditinggal oleh Ramadhan ini. Walau kita berharap besar bisa bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang, takdir dan ketentuan Allah atas kita tidak pernah kita ketahui dengan jelas.

Kesempitan untuk berbuat buruk di bulan Ramadhan memang dapat dirasakan oleh semua orang. Bukan hanya kaum muslimin –yang belum bisa meninggalkan keburukan-keburukan akhlak sebelum datangnya Ramadhan– yang merasakan kondisi sempit ini, kaum kafir yang sangat tidak menyukai Islam pun –terutama di tengah-tengah mayoritas kaum muslimin– benar-benar merasakan kesempitan ini. Namun, sekali lagi, patut pula kita renungkan bahwa di tengah-tengah kesempitan untuk berbuat keji dan mungkar, masihkah kita melakukannya? Lagi-lagi, ucapan istighfar yang lebih layak kita haturkan ketika ditinggal oleh Ramadhan ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda pula, “Betapa banyaknya orang yang shaum, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa haus dan lapar saja”. Kita tidak berharap masuk dalam golongan ini walaupun selama Ramadhan masih saja kita melakukan perkara-perkara yang dapat membatalkan perolehan pahala yang besar dari sisi Allah SWT.

Ketika sekarang kita memasuki bulan baru dan Ramadhan telah meninggalkan kita, masihkah kita berharap akan mendapatkan kesucian diri dari segala noda dan dosa yang pernah kita perbuat? Sekecil apa pun amal baik yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan yang kita lalui, kita pun mesti menghaturkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amal baik dari kami dan dari kalian) sebagaimana ucapan ini dihantarkan di antara para sahabat Rasul saat ditinggal oleh Ramadhan.

Iedul Fithri yang secara bahasa mengandung arti “hari raya untuk memperingati asal mula kita sebelum kedatangan Ramadhan” yakni diperbolehkannya makan dan minum di siang hari, kita iringi dengan kewajiban membayar zakat fithri (atau zakat fithrah dalam bahasa masyarakat kita), menandakan pengharapan maknawi agar kita kembali kepada kesucian diri dalam berislam sebagaimana ketetapan Allah SWT sejak azali. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah dirimu kepada agama ini (Islam) dengan bersih (kesucian diri). Tetaplah pada fithrah Allah yang Allah ciptakan manusia pada fithrahnya itu. Tidak ada penggantian pada penciptaan yang Allah lakukan. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS Ar-Ruum [30]: 30)

Dengan datangnya hari raya ini, kita memulakan kembali amal kita menuju kebaikan-kebaikan dengan semangat Ramadhan yang selalu mengiringi langkah kita ke depan. Dengan amal baik kita yang sedikit itu di bulan Ramadhan kemarin, kita tetap berharap amal baik tersebut dapat menjadi kifarat bagi dosa-dosa yang pernah kita lalui mengingat satu amal kebaikan bernilai sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat amalan kita yang pokok.

Rasulullah Saw. pernah bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِحَسَنَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبْتُهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَإِذَا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا، لَمْ أَكْتُبْهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا سَيِّئَةً وَاحِدَةً “

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Bila hamba-Ku menginginkan kebaikan tetapi tidak keburu mengamalkannya, Aku catat baginya satu kebaikan. Tetapi jika ia mengamalkannya, maka Aku catat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Dan bila ia menginginkan keburukan tetapi tidak sampai ia lakukan, maka Aku tidak akan mencatatnya sebagai sebuah keburukan. Tetapi jika ia melakukannya, Aku catat baginya satu keburukan saja”. (HR Muslim)

Selain menjadi kifarat, amal baik yang kita lakukan kemarin dengan didasari keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, semoga dapat menjadi maghfirah bagi dosa-dosa yang telah kita lakukan. Allah SWT berfirman, “Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian, itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Pasti) Dia akan memberikan maghfirah (ampunan) bagi kalian dari dosa-dosa yang kalian lakukan dan akan memasukkan kalian ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai serta menyediakan tempat terbaik di surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang amat besar”. (QS as-Shaff [61]: 10-11)

Hari-hari pertama kita ditinggal oleh Ramadhan [Iedul Fithri ini] diawali dengan pengeluaran zakat fithri (fitrah) dari seluruh elemen kaum muslimin kepada para mustahiq yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, kemudian disusul dengan ibadah shalat ‘Ied dan dakwah kaum muslimin sebagai bagian dari syiar Islam di muka bumi ini. Hari-hari berikutnya kita isi dengan shaum 6 (enam) hari di bulan Syawwal ini sebagai rentetan amal baik yang menjadi napak tilas dari amal pokok di bulan Ramadhan yang telah kita lalui.

Mengeluarkan zakat fitrah menandakan sebuah kebahagiaan yang teramat besar sehingga sangat layak untuk berbagi dengan sesama sesuai dengan hak mustahiq atas ketetapan dari Allah SWT. Selain dari tanda bahagia, syari’at zakat fitrah mengandung makna “menghilangkan dan membersihkan kekotoran jiwa dari sifat-sifat bakhil” yang banyak melanda kaum “berpunya” atau secara umum dari berbagai nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. Disadari atau tidak, nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita sungguh sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Allah SWT mengingatkan, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, pasti kalian tidak akan dapat menghitungnya”.

Shalat ‘Iedul Fithri mengisyaratkan hakikat penghambaan kita kepada Allah SWT sebagaimana kita nyatakan dalam setiap bacaan al-Fatihah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Penghambaan atau ibadah yang kita persembahkan hanya kepada Allah SWT mengandung makna “pembebasan” dari penghambaan kepada sesama manusia atau bahkan pembebasan dari penghambaan kepada hawa nafsu yang selalu mengarahkan kita untuk berpaling dari Allah. Dengan ini, jiwa kita menjadi merdeka. Ketaatan dan ketundukan hanya diberikan kepada Yang Menciptakan Alam Semesta dan seisinya, bukan kepada makhluk-makhluk yang lemah selemah sarang laba-laba. Shalat ‘Ied di lapangan terbuka dengan diiringi dakwah kaum muslimin yang sangat dianjurkan untuk diikuti oleh semua elemen kaum muslimin, bukan berarti riya dan takabbur melainkan sebagai syiar yang menunjukkan keunggulan Islam dibanding agama lainnya di muka bumi ini. Kebebasan kita melaksanakannya sesuai contoh Nabi Saw. merupakan pertanda bahwa Islam bisa tegak setegak-tegaknya, dzahir sedzahir-dzahirnya, dalam setiap aspek kehidupan. Kita tinggal meraihnya dengan bahagia dan berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan perjuangan dari sisi-sisi yang belum tertunaikan secara merata dalam lingkup kehidupan masyarakat.

Selepas kita menunaikan ibadah ‘Iedul Fithri, Nabi Saw dan para sahabat mencontohkan adanya tahniah (ucapan bahagia) berupa ucapan selamat yang dihaturkan sesama kaum muslimin. Taqabbalallahu minna wa minkum, diucapkan di antara anggota keluarga, handai taulan, tetangga, sahabat dan bahkan kepada siapa pun kaum muslimin yang bertemu dan bertatap muka dengan kita. Kebahagiaan dan pengharapan diterimanya amalan kita di sisi Allah SWT diwujudkan dalam suasana kebersamaan dan menandakan terjalinnya ukhuwah sesama kaum muslimin. Prasangka buruk dihilangkan, rasa dendam dan sakit hati ditiadakan, dan segala kebencian dimusnahkan. Sebaliknya, saling memaafkan diungkapkan dan dipersaksikan di hadapan semua orang. Semuanya bermuara pada kesucian hati dalam setiap jiwa kaum muslimin. Allah SWT berfirman, “[Di hari akhir itu] Tidaklah bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih dan suci)”.

Hari-hari berikutnya dilalui dengan shaum selama 6 (enam) hari merupakan pengingat bahwa makna shaum yakni imsak (menahan diri dari segala noda dan dosa) tidak hanya berlaku di bulan Ramadhan saja. Di bulan-bulan berikutnya, kita tetap harus menapaki jalan hidup antara melakukan perintah atau ketentuan Allah SWT dan meninggalkan atau menahan diri dari segala perkara yang akan memalingkan kita dari keridhaan Allah Ta’ala. Ketaatan kepada Allah bukan hanya melaksanakan sesuatu, melainkan ‘meninggalkan sesuatu pun’ bisa terkategori sebagai bentuk ketaatan jika yang ditinggalkannya itu adalah jalan-jalan yang menyimpang dari ridha dan rahmat Allah SWT.***

© Copyright 2016 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps