Publikasi pada: Sel, 29 Mei 2012

TANTANGAN PENDIDIKAN PESANTREN MASA KINI

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda
Sejarah telah mencatat bahwa ajaran Islam menyebar serta pemeluknya meluas sampai keseluruh kepulauan Nusantara antara abad ke-13 dan ke-16 setelah persaingan antar madzhab selesai bertarung dan mencapai kesepakatan damai. (Zamakhsyari Dhofier, 2011:2)
Dengan demikian, pemikiran-pemikiran yang tersimpan dalam ajaran Islam serta merta tersebar serta teraktualisasi ke seluruh Nusantara pula, dan hal ini gerbangnya adalah pesantren.
Pesantren sebagai pondasi paling penting dalam bangunan peradaban Indonesia sejak zaman kolonial Belanda, merupakan gerbang perubahan satu-satunya yang utama dan pertama mengantarkan pendidikan moralitas dan nilai-nilai spiritual ketengah-tengah bangsa di negeri ini.
Proses perubahan akan terjadi dalam sebuah komunitas pesantren jika di dalamnya telah muncul figur-figur kiayi yang berfikiran maju, terbuka dan kritis terhadap berbagai pandangan, keyakinan dan bangunan nilai-nilai lama. Seorang kiayi pesantren dapat dikatakan berfikiran maju tatkala dirinya di dukung dengan penguasaan perangkat ilmu-ilmu fiqih, serta berani mengkritisi sebuah realitas sosial.(Zubaedi, 2007:10)
Secara umum, pesantren memiliki unsur-unsur utama yaitu kiayi, mesjid, pondok dan kitab kuning yang merupakan sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri yang penuh dengan nilai-nilai moralitas dan religi serta sarat dengan aplikatifnya. Peranan kiayi dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakternya yang khas.
Pesantren berperan sebagai lembaga yang mengembangkan nilai moral-spiritual, informasi, komunikasi timbal balik secara kultural dengan masyarakatnya dan tempat pemupukan solidaritas umat.(Zubaedi,2007:16).
Karena itu, Azyumardi Azra mengatakan, bahwa pesantren telah memainkan tiga peranan penting yaitu ; Transmission of Islamic Knowledge (Penyampaian Ilmu-ilmu Ke-Islaman), Maintenance of Islamic Tradition (Pemelihara Tradisi Islam) dan Reproduction of Ulama (Pembinaan calon-calon Ulama).
Dengan demikian, maka jika dicermati, maka ada tiga karakteristik pesantren yang dapat dijadikan acuan, yaitu ; Pertama, pesantren sebagai lembaga tradisionalisme, artinya pesantren sebagai lembaga pendidikan yang terlahir di tengah-tengah masyarakat dapat mempertahankan nilai-nilai teologi, teleologi, logis, etika serta estetika yang diajarkan oleh para kyai sepuh tentang tatanan moralitas-spiritual, solidaritas, kemandirian serta penanaman ketaatan pada sang guru yang senantiasa menjunjung tinggi Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupnya.
Kedua, pesantren sebagai pertahanan budaya (cultural resistance) yaitu mempertahankan budaya dengan ciri tetap berstandar pada ajaran dasar Islam yakni budaya pesantren yang sudah berkembang berada-abad lamanya diajarkan sang kyai serta dipatuhi oleh semua santrinya serta dijadikan panutan oleh masyarakat sekitarnya, seperti mengembangkan budaya kemandirian yang dikenalkan sejak para santrinya mondok di pesantren. Hampir semua santri belajar ‘ngaji’ dan ‘ngejo’(menanak nasi) sendiri, namun hal ini pun hanya muncul di pesantren-pesantren salaf(tradisional) yang masih mempertahankan budaya (cultural resistance).Walaupun saat ini, harus jujur kita akui, telah banyak bermunculan pesantren modern yang telah memfasilitasi kebutuhan santrinya dengan berbagai pelayanan, santri hari ini sudah tidak usah menanak nasi sendiri, mencari lauk-pauknya sendiri, bahkan sampai mencuci baju serta sentrika bajupun sudah disediakan jasa laundry-nya, sehingga budaya pesantren yang bertujuan mendidik santri agar mandiri sudah agak pudar bahkan nyaris tidak tampak. Hal tersebut dilakukan oleh pesantren-pesantren modern dengan alasan agar para santrinya konsentarsi pada ‘ngaji’nya dan tidak diribetkan dengan ‘ngejo’ (menyiapkan makan) dan mencuci pakaian. Namun walaupun demikian, secara general baik pesantren salaf (pesantren tradisional) maupun khalaf (modern) masih menanamkan jiwa kemandirian walaupun dengan gaya serta corak yang berbeda.
Di sisi lain bentuk semangat mempertahankan budaya(cultural resistance) terbukti ketika Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro menentang keras penjajah Belanda, semakin keji penindasan yang dilakukan kaum koloni ketika itu, maka semakin keras pula perlawanan yang dilakukan oleh kalangan pesantren yang dikomandani oleh kiai dan para santrinya. Sehingga sampai saat ini kalangan pesantren selalu diposisikan sebagai kalangan ‘oposan’ karena senantiasa mempertahankan  kesejatiannya akan cultural resistance. (DR Zubaedi, M.Ag, 2007:17)
Ketiga, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Semua pesantren corak manapun serta dengan gaya pendidikan apapun senantiasa menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam mengarahkan, mengajarkan serta mendidik nilai-nilai hidup dan kehidupan kepada semua santrinya. Ajaran tersebut bersinergi dengan struktur sosial atau realitas sosial yang digumulinya setiap hari. Karena itu, pendidikan pesantren senantiasa menjadikan landasan ajaran agama yang diyakini memiliki nilai kebenaran absolute (mutlak) sebagai pedoman untuk mencoba menerjemahkan dan menyelesaikan realitas umat dengan sejumlah permasalahan-permasalahannya yang memiliki nilai relatif.
Namun demikian, modernitas serta tantangan globalisasi yang semakin deras, menuntut pesantren sebagai lembaga tradisionalisme,cultural resistance dan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama dapat merespon gejolak zaman ini dengan sebuah reaksi yang tidak menimbulkan antipati namun sebuah reaksi yang justru sebaliknya menebar empati serta simpati dari kalangan manapun. Walaupun tidak menutup mata, tentunya dengan globalisasi ini menimbulkan dua haluan yang bertolak belakang dari dunia pesantren, artinya ada yang beraksi persuasive atau bahkan sebaliknya mengeluarkan reaksi yang sangat antipatif. Hal ini timbul, dari bagaimana cara menyikapi sebuah persoalan serta hal ini pula yang menjadi barometer kepiawaian kiai dalam memecahkan permasalahan umat.
Namun persoalan yang tengah dihadapi pesantren saat ini adalah di satu sisi pesantren ingin mepertahankan budayanya agar nilai-nilai ajaran Islam dan budaya ketimuran tetap terjaga, dilain pihak tantangan zaman sudah sangat kompleks sekali berbeda dengan zaman dahulu ketika pesantren terlahir. Karena itu, pesantren hari ini harus segera berbenah diri, secara jujur  harus mengakui kelemahannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, hari ini pendidikan pesantren tidak sekadar mentransmisikan berbagai ajaran Islam melalui kitab-kitab kuning pada santri-santrinya saja, tetapi juga harus mengembangkan pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis religi dengan kualitas yang dapat memiliki keunggulan kompetitif dimasa kini dan mendatang.
Pesantren hari ini, tentunya harus dapat menyikapi perubahan dengan sangat arif dan bijaksana, tanpa harus mengorbankan ‘kekhasan’ karakteristiknya selaku lembaga pendidikan keagamaan dan social. Sebaiknya pesantrenpun saat ini harus berbenah diri dan mulai introspeksi diri akan kelemahan-kelemahannya di bidang managerial, sehingga pengadopsian manajemen persekolahan senyatanya bukan hal yang ‘haram’untuk dijadikan acuan dalam membangun fleksibilitas lembaga tertua di negeri ini. Apalagi pesantren yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat modern yang senantiasa selalu ingin ‘instans’ dalam berbagai hal, termasuk pemahaman dan pemurnian akan ajaran Islam itu sendiri.
Dahulu, orang yang dijuluki faqihu fi din (paham secara mendalam akan ajaran agama Islam) adalah orang-orang pilihan setingkat kyai atau ulama, ustadz seta santri senior saja. Sementara gelar faqihu fi Din itupun dapat diraih bukan dengan waktu serta tenaga yang sedikit, tentunya memerlukan waktu yang lama serta tenaga yang cukup banyak pula, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya, mereka (kiai,ulama,ustadz, dan santri senior) harus melewati dan menguasai berbagai disiplin ilmu agama dasar dan murni yang kuat terlebih dahulu.
Namun di dalam konteks kehidupan globalisasi saat ini, banyak kalangan awamis (masyarakat umum) yang ingin menguasai ajarana agama secara mendalam sampai merekapun dapat menyandang faqihu fi din tapi tanpa mau mengorbankan waktu dan tenaga yang dapat menyita aktifitas kesehariannya. Hal ini menjadi sebuah permasalahan umat dimana di satu sisi mobilitas kehidupan manusia modern cukup tinggi sehingga tidak ada waktu untuk memperdalam ilmu gramatika bahasa arab, ushul fiqih,ilmu balaghah, ilmu faro’id, ilmu tafsir, ushulul hadits dan lain sebagainya, sedangkan di pihak lain keinginan mereka menguasai ajaran agama Islam cukup tinggi pula.
Karena itu, tantangan globalisasi harus dijadikan peluang oleh setiap pesantren di masa kini, teknologi ICT (Information Communication and Tecnology) harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah masa kini. Selain itu, kelemahan yang dimilikipun harus dijadikan sebagai kekuatan untuk terus maju berjuang, bersaing dengan zaman, bukan suatu yang mustahil seorang kiayi dan ustadz berceramah dengan menggunakan perangkat lunak seperti laptop, ibu-ibu pengajian diajak tadarusan dan mengkaji tafsir maupun hadits dengan menggunakan media power point, atau santri-santrinya sudah tidak usah berat-berat membawa kitab kuning, cukup dengan membawa program hadits atau tafsir yang sudah banyak di-CD kan, walaupun bukan berarti kitab kuning aslinya kita lupakan.kalau tidak sekarang kapan lagi, mari kita hadapi tantangan masa kini, bukankah jihad terbesar adalah tidak lari dari medan perang?wallahu a’lam bi ash-shawab. | Rudi Rusyana *)

*) Penulis adalah Staf Pengajar di STAI MUTTAQIEN PURWAKARTA dan pengamat pendidikan.
© Copyright 2012 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

- Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Menampilkan 3 komentar
Lihat Tanggapan Anda
  1. alhamdulillah sehat. biasa we sibuk burber nyiapkeun muscab persis

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps