Publikasi pada: Sel, 21 Jan 2014

Tauhid; Fondasi Dakwah Para Rasul

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Ketuhanan merupakan aspek terpenting dalam keberagamaan manusia. Rasa dan sikap spiritual yang dimiliki oleh setiap orang merupakan daya dorong yang paling kuat dalam menganut suatu keyakinan dalam beragama. Namun acapkali daya spiritual yang tinggi itu bisa menelantarkan seseorang pada suatu putusan yang keliru dan sesat. Persoalan “Siapa yang menjadi dan diyakini sebagai Tuhan?” bukan hanya sekadar masalah logika manusia yang amat terbatas. Tatkala pengambilan putusan ini tidak terbimbing secara benar, maka manusia akan menjadikan sosok Tuhan dalam keberagaman, tidak manunggal.

Realitas kehidupan telah menegaskan betapa banyak sosok Tuhan yang dipertuhankan oleh setiap orang. Matahari, patung, hewan, bahkan jiwanya sendiri bisa teranggap sebagai Tuhan. Fir’aun pernah memproklamirkan “Akulah Tuhanmu yang Amat Tinggi”. Al-Hallaj pernah juga menegaskan “Akulah Kebenaran”. Inilah suatu putusan tentang “Siapa Tuhan” dalam bingkai logika yang sesat dan menyesatkan. Ketika realitas menggambarkan seperti itu, lalu “Siapa Tuhan yang sebenarnya”.

عن ابن عباسٍ رضي الله عنهما قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لمُعاذِ بن جبَلٍ حين بعثَه إِلى الْيمَنِ : إِنكَ ستأتي قوماً أهلَ كتابٍ، فإذا جئتَهم فادْعُهمْ إِلى أنْ يشهَدوا أنْ لا إِله إلا الله، وأنَّ محمداً رسولُ الله

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ketika beliau mengutusnya (berdakwah) ke negeri Yaman; ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum Ahli Kitab. Jika engkau telah mendatangi mereka, maka serulah mereka agar menyatakan persaksian bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah”. (HR al-Bukhari)

Inilah konsep tauhid yang merupakan fondasi dakwah para Rasul sejak Adam ‘alaihis salam hingga masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui konsep tauhid inilah, Islam mempertegas asas ketuhanan bagi seluruh manusia, “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Segala Tuhan yang dipertuhankan oleh manusia selain Allah adalah Tuhan yang diciptakan melalui logika dan spiritualitas manusia yang lemah dan tak berkepastian. Mustahil Tuhan diciptakan. Bahkan Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagat raya dan seisinya. Ini berarti hanya satu Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Tidak mungkin ada keanekaragaman dalam menentukan “Siapa Tuhan”. Tatkala ada keanekaragaman dalam mempersepsi sosok Tuhan, maka Tuhan tersebut adalah Tuhan hasil persepsi. Ketika Azar, bapak Ibrahim, menyuruhnya untuk menjual patung-patung hasil karyanya yang disembah oleh kaumnya, Ibrahim pun bertanya-tanya, “Siapakah yang lebih mulia, patung atau yang membuat patung?”.

© Copyright 2014 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps