Publikasi pada: Sen, 1 Jul 2013

Telaah Atas Konsep Tauhid Syiah

solusi masa depan anda
Bagikan
Bertanda

Dalam dunia pemikiran teologi, Syiah termasuk salah satu sekte di luar Ahlus Sunnah (Sunnah) yang gerakannya paling eksis hingga kini. Di banding firqah lainnya seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jabariyah, dan lain-lain, penyebaran Syiah lebih massif. Terutama pasca Revolusi Iran tahun 1979. Dan kini mendirikan pemerintahan, yaitu Republik Islam Iran. Roda pemerintahan dijalankan berdasarkan konsep Imamah (kepemimpinan). Imamah bukan sekedar jabatan politis, tapi juga pengamalan ketat dari doktrin teologis Syiah[1]. Dalam akidah Syiah, doktrin yang paling mendasar adalah Imamah. Akidah Imamah adalah kepercayaan paling sentral. Sistem pemerintahan, konsep-konsep kepercayaan, konsep hadis termasuk konsep ketauhidan – seperti yang akan dijelaskan nanti – berkait erat dengan konsep Imamah ini. Tauhid Syiah ditopang oleh akidah Imamah. Bisa dikatakan Imamah merupakan pandangan hidup aliran Syiah. Sedangkan akidah Imamah sendiri berakar dari gerakan politik. Penegakan akidah Imamah pun dilakukan melalui jalur politik. Tulisan ini akan menulusuri pemikiran Syiah tentang tauhid dan kaitannya dalam praktik politik keimamahan.

Dari Politik ke Teologi

Gejolak awal Syiah bermula dari isu adanya sengketa politik antara sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan Ahl al-Bayt mengenai jabatan khalifah. Isu politis dikobarkan oleh sosok Abdullah bin Saba’[2]. Tersebarlah propaganda yang menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar dan Ustman radhiallāhu ‘anhum merampas hak khalifah. Nama Ali bin Abi Thalib radhiāllahu ‘anhu disodorkan sebagai pemegang hak resmi jabatan khalifah.

Penyebaran isu tersebut juga dilakukan dengan cara-cara politis. Imam al-Thabari menerangkan, propaganda ditanamkan kepada orang-orang tertentu yang awam yang baru masuk Islam. Mereka secara diam-diam menyebarkan adanya sengketa politik sambil menyembunyikan maksud mereka itu[3]. Ada dua pokok hal yang menjadi komoditas propaganda, yaitu mengangkat teologi tasyayyu’ (mencintai Ahl al-Bayt secara berlebihan) dan pendiskulaifikasian sejumlah besar sahabat Nabi Saw dari pengikut kebenarana. Bahwa ada wasiat dari Nabi Muhammad Saw kepada Ali dan keturunannya. Masyarakat awam diprofokasi dengan isu bahwa Ahl al-Bayt bermusuhan dengan sahabat[4]. Mobilisasi propaganda dilakukan di daerah-daerah pinggiran, seperti Mesir dan Irak.

Gejolak makin meningkat pada zaman Ustman bin Affan. Abdullah bin Saba’ menyebarkan pemahaman bahwa setiap Nabi memiliki washi. Dan Ali adalah washi-nya Nabi Muhammad. Di lain tempat ia memasang sikap anti-Ustman bin Affan dengan mencemarkan nama beliau[5]. Politik Abdullah bin Saba’ pun berkembang secara luas di kalangan orang-orang Kufah menjadi sistem keyakinan dan menyebar dari generasi ke generasi menjadi sebuah teologi.

Selain Abdullah bin Saba’, yang banyak disamarkan oleh Syiah kontemporer, ada lagi sosok yang perlu diketahui dalam historisitas politik Imamah. Al-Du’ali pernah membuat provokasi dengan memuji-muji Ali secara berlebihan. Ia mengatakan: “Kutatap roman muka Abu Husein, bak kulihat rembulan yang bersinar terang, membuat semua yang melihat jadi keheranan. Aku mencari Tuhan dan tempat tinggal masa depan melalui cintaku kepada ‘Ali”[6].

Obsesi politik dengan mengangkat teologi Imamah dengan Ahl al-Bayt sebagai pemegangnya hampir menuai hambatan. Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib tidak berlangsung lama, yaitu lima tahun sejak tahun 35 H sampai 40 H. Ketika putranya, Hasan bin Ali diangkap, situasi politik dipenuhi pertentangan hebat. Kerajaan yang diakui mengangkat Ahl al-Bayt baru dinasti Fatimiyah dan keturunan Hasan yaitu Idris bin Abdullah di Maroko pada tahun 179 H. bahkan dinasti Idris sesungguhnya tidak representatif pemerintahan Syiah, karena wilayah kekuasannya semuanya Sunni[7].

Ibnu Babawihi al-Qummi, salah seorang ulama’ klasik Syiah menjelaskan tentang pokok-pokok teologi politik tersebut. Ia mengatakan bahwa setiap nabi menyampaikan wasiatnya kepada penerimanya atas perintah Allah swt. Dan bahwa jumlah penerima wasiat itu mencapai seratus dua pulu empat ribu orang[8]. Muhammad Ahmad al-Turkamaniy menukil ‘Aqāid al-Imāmiyah bahwasannya, mereka meyakini Nabi Saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya dan khalifah di muka bumi[9].

Ketika mereka mengangkat konsep washi terhadap Ali bin Thalib dan keturunannya, para sahabat Nabi Saw, didiskualifikasi. Alasannya, para sahabat tidak mendukung Ahl al-Bayt untuk mengangkat Ali menjadi khalifah. Al-Kulayni dalam kitab al-Kāfi mengatakan: “Pasca wafatnya Nabi, orang-orang menjadi murtad semua, kecuali tiga. Aku bertanya, siapa yang tiga itu? Beliau menjawab; Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi”[10]. Keyakinan ini berimplikasi pada parameter validitas Hadist Syiah. Jalur penerimaan hadist dipersempit hanya melalui riwayat Ahl al-Bayt. Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’ mengatakan; “Syiah tidak menerima hadist-hadits Nabi Saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahl al-Bayt. Sementara hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan lain-lain tidak memiliki nilai walau sedikit”[11]. Khomeini juga membatalkan transmisi hadist dari sahabat selain Ahl al-Bayt. Bahkan ia menuduh sahabat membuat-buat kalimat yang diatasnamakan Nabi Muhammad Saw[12]. Keyakinan seperti tersebut di atas bukan lagi murni politik, tapi telah menjadi sistem dasar teologi Syiah. Setiap pemikiran dan akidah disandarkan kepada konsep Imamah. Dan konsep Imamah sendiri tidak pernah lepas dari cara-cara politik untuk menegakkannya. Seperti yang difatwakan oleh Khomeini bahwa, usaha-usah pendirian Negara Syiah merupakan bagian dari aplikasi iman terhadap wilayah (keimamahan)[13]. Pada masa terjadi kekosongan Imam, seperti sekarang, jabatan Imam untuk sementara dikendalikan oleh Wilayat al-Faqih yang bertugas menasihati pemimpin Negara dan sekaligus pemimpin tertinggi dalam perkara agama. Oleh sebab itu, mendirikan Negara ‘Islam’ merupakan keniscayaan bagi Syiah. Karena hal itu bagian dari pengamalan doktrin Imamah. Kesempurnaan teologi Syiah dipraktikkan melalui Imamah.

Adapun isu sengketa politik antara sahabat dan Ahl al-Bayt yang diisukan sepeninggal Nabi Saw, ternyata tidak ada referensi standar sejarah Islam. Ketika terjadi musyawarah antara kaum Anshar dan Muhajirin di balairung Saqifah Bani Sa’idah untuk memilih khalifah, Ali bin Abi Thalib memang tidak terlibat karena sibuk mengurus jenaza Rasulullah Saw. Akan tetapi pada akhirnya Ali membaiat Abu Bakar sebagai khalifah[14]. Antara Ahl al-Bayt dengan sahabat juga tidak terjadi perselisihan politik, apalagi saling mencaci. Justru Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat kepada keturunannya; “Jagalah hak-hak sahabat Nabi kalian, karena Rasulullah Saw telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak mereka”[15].

Ketika terjadi perselisihan politik, terutama ketika terjadi perang Jamal dan Shiffin, di zaman Ali bin Abi Thalib, tidak dinafikan terdapat sekelompok pendukung setia Ali. Namun wajah ‘Syiah Ali’, pada zaman itu bukanlah seperti wajah Syiah Imamiyah sekarang. Ibn Taimiyah mengatakan bahwa kaum Syiah dahulu yang ikut serta Ali bin Abi Thalib atau mereka yang hidup pada zaman itu sepakat mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Mereka hanya berselisih tentang mana yang lebih utama antara Ali dan Ustman. Tidak ada caci maki terhadap sahabat. Pengikut setia Ali yang ini bukan kelompok Sabaiyah (pengikut Abdullah bin Saba’). Sehingga tidak bisa dinisbatkan dengan Rafidhah. Syiah Rafidah adalah penerus Sabaiyah yang diidentifikasi menjadi satu kekuatan teologis tersendiri pada tahun 121 H, ketika terjadi penyerbuan kelompok Syiah kepada Hisyam bin Abdul Malik. Sejak ini muncul nama Rafidhah, yang menjelek-jelekkan Abu Bakar dan Umar. Secara teologis kelompok ini penerus dari Sabaiyah zaman dahulu. Keimamahan menjadi prasyarat mutlak untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

Konsep Ke-Esa-an dan Absolusitas Imamah

Secara sekilas konsep tauhid Syiah dengan Ahl al-Sunnah wal Jam’ah tidak menunjukkan perbedaan mendasar. Syiah meyakini ke-Esa-an Allah subhānahu wa ta’āla. Allah adalah Tuhan yang satu, tiada duanya dan Allah tidak memiliki anak. Ulama’ Syiah kontemporer, Khomeini, dalam bukunya Kasf al-Asrār mengutip beberapa ayat al-Qur’an tentang ke-Esa-an Allah dan mengecam kaum musyrik yang meyakini Tuhan lebih dari satu. Ia mengutip surat al-Anbiya’: 22 dan 24. Menjawab para penyembah berhala, Khomeini mengutip surat Yunus: 19, dan menjawab ketuhanan orang Kristen yang tiga ia berhujjah dengan dalil surat al-Nisa’: 172, al-Ma’idah: 19, dan al-Taubah: 30[16]. Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’ menjelaskan dilarang seorang Muslim menyembah selain Allah. Juga dilarang menyebah sesuatu yang dinisbatkan dengan menyembah Allah Swt[17]. Wajib hukumnya mentauhidkannya dalam ibadah[18].

Kitab al-Kafi, kitab hadis Syiah yang paling utama, memuat riwayat tentang syarat Islamnya seorang muslim, yakni dengan membaca Syahadah. “Dari Samma’ah, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah a.s: “Ajari aku tentang Islam dan iman, apakah keduanya berbeda? Abu Abdilllah menjawab: ‘Sesungguhnya iman masuk dalam kata-kata Islam, sedangkan Islam tidak masuk dalam kata-kata iman’. Aku berkata: ‘Terangkanlah padaku lebih lanjut. Beliau menjawab: ‘Islam adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan membenarkan Rasulullah, dengan Islam inilah darah dilindungi dan di atas kalimat ini pulalah pernikahan dan warisan bisa dianggap sah, dan pada dzahir dari pengakuan itulah semua manusia”[19].

Menyimak keterangan tersebut di atas, tidak ditemukan berbedaan mendasar dalam konsep ketuhanan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Syiah meyakini bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang patut disembah. Menolak keyakinan-keyakinan yang menyatakan bahwa Allah memiliki anak atau diperanakkan. Syiah juga meyakini bahwa Syahadat menjadi syarat Islamnya seseorang.

Akan tetapi jika dipandang dari sisi konsep Islam, ada sejumlah doktrin tambahan dari Syiah yang tidak ditemukan dalam keyakinan Ahlussunnah. Adanya doktrin-doktrin hasil kreasi ulama’ Syiah itu yang menyebabkan konsep ke-Esa-Allah memiliki perbedaan secara doctrinal dengan Ahl al-Sunnah wal Jama’ah. Pertama, Syiah menyematkan sifat bada’ kepada Allah. Kedua, Imamah sebagai penopang akidah tawhid. Bada’ adalah membatalkan keputusan yang telah diputuskan sebelumnya karena ada pemikiran baru. Mamduh Farhan al-Buhairi, seorang peneliti Syiah dari Ummul Qura Makkah, menjelaskan tentang akidah Bada’; Syiah meyakini bahwa Allah menciptakan makhluk, dan Dia tidak mengetahui apakah mereka itu baik atau buruk[20]. Dengan kata lain, ilmu Allah itu akan berubah dan menyesuaikan fenomena yang terjadi.

Akidah bada’ pertama dikumandangkan oleh Mukhtar al-Tsaqafi, seorang ulama Syiah klasik. Ia pernah mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Jika terjadi suatu peristiwa yang berbeda dengan apa yang ia beritahukan, maka dia berdalih:”Telah timbul pikiran baru bagi Tuhan kamu”[21]. Pandangan al-Tsaqafi inilah yang menjadi embrio kepercayaan bada’. Oleh sebab itu, banyak peneliti seperti al-Buhairi dan al-Salus, berhujjah bahwa latar belakang dari akidah bada’ ini adalah untuk memberi jalan keluar atau menutupi pernyataan-pernyataan para imam Syiah yang ma’sum yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti diyakini Syiah, ilmu Imam tidak terbatas. Mereka mengetahui hal-hal yang belum terjadi, sebagaimana Allah ketahui. Tetapi, ketika, ia berkata, kemudian perkataannya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, maka Syiah berdalih, bahwa ternyata Allah memiliki pemikiran baru yang berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh Imam, sehingga kema’suman mereka terjaga.

Dalam akidah Syiah, bada’ termasuk bagian dari konsep tauhid. Seperti tertulis dalam kitab al-Kafi, kajian akidah bada’ dimasukkan ke dalam Kitab al-Tauhid. Menurut keterangan al-Kafi, semua nabi mengakui akidah bada’, bahkan tidak ada nabi yang diangkat kecuali ia meyakini akidah bada’. Diriwayatkan dari Marazim bin Hakim dia berkata: ‘Aku mendengar Abu Abdillah mengatakan;’Seorang Nabi tidak resmi menjadi Nabi hingga mengakui lima perkara karena Allah, mengakui bada’,masyi’ah, sujud, ubudiyah dan taat”[22].

Al-Kulaini, penulis al-Kafi menukil sebuah riwayat tentang nisbat bada’ kepada Allah. “Allah mengalami bada’ tentang Abu Muhammad setelah Ja’far, sesuatu yang belum Dia ketahui untuknya”[23]. Riwayat Syiah ini menilai bahwa Allah sebelumnya telah memutuskan Ja’far sebagai imam. Namun ketika Ja’far meninggal sebelum jadi imam, segera Allah memutuskan lain, Abu Muhammad sebagai imam. Di sini artinya, Syiah meyakini bahwa pengetahuan Allah tidak luas, Dia tidak mengetahui bahwa Ja’far akan meninggal sebelum menjadi imam. Ini tentu berbeda dengan kepercayaan Ahlus Sunnah. Padahal ilmu Allah itu luas tak terbatas. Seperti firman Allah: “Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan telah tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfudz)”[24]. Allah mengetahui kunci-kunci yang ghaib. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelau daun pun yang jatuh melainkan Dia mengetahuinya”[25] .Akidah bada’ ini sekaligus menyimpulkan bahwa pengetahuan dan keputusan Allah tergantung dari sebuah peristiwa. Ini menafikan kemandirian Allah dalam memutuskan perkara. Ternyata, akidah bada’ juga dipraktikkan tidak lepas dari konsep imamah.

Selain akidah bada’ konsep ke-Esan-an dalam Syiah menjadi rancu ketika dikaitkan dengan konsep Imamah. Akidah Imamah diposisikan sebagai akidah penyerta dalam konsep ketuhanan. Secara elementer, konsep imamah berbeda jauh dengan yang dipahami Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beriman kepada imamah sebagai prasyarat untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak sah keimanan seseorang – meskipun secara tulus beriman kepada Allah dan Rasul –Nya jika tidak diberengi oleh kepercayaan terhadap keimamahan Syiah. Dari sinilah konsep Imamah Syiah merupakan konsep murni teologis, tidak sekedar konsep politis.

Imamah merupakan jabatan ilahi, kedudukannya tidak diperoleh melalui musyawarah akan tetapi ditunjuk olah Allah. Ulama’ kontemporer Syiah, Husein Ali Kasyif al-Ghita’ mengatakan: “Yang dimaksud Imamah adalah suatu jabatan Ilahi. Allah yang memilih berdasarkan pengetahuan-Nya yang azali menyangkut hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia memilih Nabi. Dia memerintahkan kepada Nabi untuk menunjuknya kepada umat dan memerintahkan mereka mengikutinya. Syiah percaya bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menunjuk Ali dengan tegas dan menjadikannya tonggak pemandu bagi manusia sesudah beliau”[26]. Imamah merupakan pokok agama yang membedakan dengan firqah-firqah lainnya, karena sebagaimana diungkapkan ulama Syiah, Ali Kasyif al-Ghita’ bahwa ia memang jabatan ilahiyah. Pengangkatannya seperti Allah mengangkat Nabi, langsung dipilih oleh Allah tanpa musyawarah di antara manusia.

Dalam keyakinan Syiah Imamah ditunjuk oleh Nabi Saw. Sebelum meninggal, Ali diberi wasiat oleh Nabi[27]. Namun dalam kenyataannya, dari data-data sejarah baik Syiah atau Ahl al-Sunnah, tidak ditemukan pernyataan tegas Ali yang mengumumkan bahwa dirinya mendapat wasiat dari Nabi. Bahkan ketika ia didesak oleh Abbas untuk menanyakan kepada Rasulullah Saw adakah wasiat kekhalifahan, Ali menolaknya dan bahwa perkara itu bukan ada di pundaknya.

Kedudukan imam dalam Syiah terlampau berlebihan. Teologi Imamah, bahkan hampir mirip dengan ketuhanan. Seperti pendapat para Imam memiliki kuasa seperti Allah. Imam Khomeini mengatakan: “Ini kerana bagi imam itu kedudukan-kedudukan maknawi yang tersendiri, terpisah dari keududukan pemerintahan. Imamah merupakan kedudukan Kekhalifahan yang menyeluruh bersifat ketuhanan, yang telah tersebut oleh para Imam a. s, dimana seluruh hal-hal yang paling kecil yang ada ( di bumi) tunduk kepada mereka”[28]. Pemikiran ini diperkuat dengan riwayat dalam al-Kafi yang menyatakan : “Tidakkah engkau tahu bahawa dunia dan akhirat itu untuk Imam, dia mengurusnya sesuai sekehendaknya dan dia memberinya kepada sesiapa yang dia hendaki, yang demikian itu dari (anugerah) Allah”[29]. Bisa disimpulkan, alam semesta ini diatur oleh Allah dan para Imam. Para Imam memiliki hak kuasa yang tidak dimiliki para Nabi sekalipun.

Dalam sejumlah litelatur, Imamah hampir sama dengan Nubuwah. Tapi dalam pustakan Syiah lainnya ditemukan justru Imamah lebih tinggi daripada Nubuwah. Abdul Husein, seorang pemikir Syiah kontemporer, menulis: “Para imam yang dua belas lebih utama daripada semua nabi selain Nabi Muhammad Saw dan keluarganya, barang kali penyebab hal itu adalah, bahwa keyakinan mereka (para imam) lebih banyak dari pada Nabi”[30]. Keyakinan tersebut juga ditegaskan oleh Khomeini. Ia mengatakan, “Sesungguhnya di antara hal yang pokok dalam madzhab kami (Syiah) adalah, bahwa para Imam memiliki derajat yang tidak dapat dijangkau oleh para malaikat muqarrabin dan para nabi yang diutus”[31].

Pujian-pujian berlebihan juga dapat dijumpai dalam pustaka-pustaka standar Syiah lainnya. Dengan demikian ‘pengkudusan’ terhadap Imam bukan perkara yang menjadi perdebatan di kalangan Syiah, tapi telah menjadi konsensus para ulama’, baik klasik maupun kontemporer. Makanya tidak heran jika ambisi politik Syiah sebenarnya cukup besar kerena didorong oleh ambisi teologi Imamah yang disakralkan itu.

Karena itu fanatisme Syiah terhadap Imamah mengakibatkan pendiskualifikasian terhadap orang-orang di luar Syiah. Teologi Imamah menjadi parameter baku untuk menilai keimanan dan ketauhidan seseorang. Persoalannya, parameter Imamah ini merupakan kreasi para ulama’ Syiah. Meskipun dalam Syiah hal ini menjadi akidah paling mendasar, Ali bin Abi Thalib sendiri tidak pernah mengatakan hal demikian. Dalam kumpulan pidatonya, yang dibukukan dalam Nahajul Balaghah, juga tidak ditemukan fatwa-fatwa seputar kekafiran orang yang tidak mempercayai Imamah. Orang yang menolak keimamahan biasanya disebut syirik. Perluasan makna syirik tentu menguatkan asumsi awal, bahwa Imamah tidak sekedar menyamai Nubuwah, tapi merupakan ruang ilahiyah.

Dengan landasan seperti itu, poisis Imamah menjadi absolut. Dalam epsitemologi Syiah, imamah merupakan sumber ilmu yang pasti. Alasannya cukup ekstrim; para imam diyakini tidak pernah lupa dan mengantuk. Seperti dikatakan oleh Imam Khumaini; “Para Imam dimana kita tidak bisa memandangnya tidak mengantuk dan lalai”[32]. Oleh karenanya, imam dalam pemikiran Syiah itu ma’sum (terbebas dari dosa). Bahkan, imamah menjadi salah satu rukun Syiah. Imam Khumaini menjadikannya seperti syahadat, para mayit biasanya dibacakan talqin dengan menyebut-nyebut kewajiban meyakini para Imam[33].

Konsep Syirik

Keyakinan-keyakini seperti tersebut di atas memperkuat asumsi, bahwa akidah imamah menjadi salah satu aspek penting dalam praktik keyakinan Syiah. Salah satunya, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an berbasis Imamah. Argumentasi yang dikedepankan adalah hujjah berdasarkan konsep prinsipil imamah Syiah. Untuk itu, ayat-ayat yang berkaitan dengan tauhid, syirik dan sebagainya dita’wil dengan konsep Imamah sebagai landasannya. Umumnya ayat yang berkaitan dengan konsep syirik misalnya, ditafsirkan secara konstan tidak lepas dari kepercayaan kepada para imam Syiah.

Salah satu di antaranya, surat al-Zumar ayat 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu. Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

Al-Kulaini dalam kitab al-Kafi menjelaskan bahwa yang dimaksud menyekutukan dalam ayat tersebut adalah mempersekutukan imam Ali dengan kepemimpinan orang lain[34]. Keyakinan seperti ini telah dipertegas oleh ulama’ klasik kenamaan Syiah, al-Majlisi dalam karyanya, Bihar al-Anwar. Ia mengatakan: “Ketahuilah bahwa memutlakkan kalimat syirik dan kufur dalam teks-teks Syiah terhadap orang-orang yang tidak mempercayai keimamahan Ali dan para imam setelah beliau dan mengutamakan orang lain daripada mereka, menunjukkan bahwa orang-orang itu kafir dan kekal di neraka”[35].

Surat al-Baqarah ayat 136 yang menjelaskan tentang persaksian keimanan kepada Allah dan Rasulullah diselewengkan menjadi keimanan terhadap imam dan Ahl al-Bayt. Ayat tersebut berbunyai:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا

Artinya : “Katakanlah (wahai orang-orang mukmin) ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”.

Ayat ini ditafsirkan oleh al-Kulaini secara keliru. Menurutnya, yang dimaksud beriman kepada yang diturunkan Allah adalah beriman kepada Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan para imam setelah mereka[36]. Dengan demikian, tafsir al-Qur’an terlalu jauh diselewengkan dimana tafsir seperti tersebut tidak pernah dijumpai pada ulama’-ulama salaf. Metodologi tafsir berbasis Imamah inilah yang menyalahi metode baku tafsir para ulama’ salaf.

Tanpa perlu penjelasan yang rumit, kita bisa menyimpulkan bahwa konsep syirik dalam Islam telah dibongkar sedemikian rupa dengan memasukkan konsep Imamah sebagai dasarnya. Syirik, yang dalam pemahaman Islam adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain selain-Nya, diperluas maknanya sehingga menjadi orang yang mempersekutukan Allah dan yang mempersekutukan imam Ali. Jadi pemahaman tentang syirik berkait dengan kepercayaan terhadapa imamah. Bahkan akidah imamah menjadi syarat untuk membersihkan dari kesyirikan.

Konsep syirik tidak sekedar penyekutuan terhadap Tuhan, tapi juga kepada imam yang notabene adalah manusia. Konsep seperti ini tampak telah terjerumus kepada paham ‘antroposentrisme’ –yaitu paham yang meyakini manusia sebagai kebenaran. Meski bukan persis sama dengan antroposentrisme yang berasal dari tradisi Barat. Akan tetapi, konsep akidah Syiah yang menjadikan imamah sebagai sentral keyakinan. Konsep akidah tauhid Syiah dengan menjadikan para imam sebagai asasnya, dapat dikatakan memiliki unsur paham antroposentrisme. Apalagi, seperti tersebut dalam riwayat di atas, imamah seperti kedudukan nubuwwah (kenabian) yang memiliki sifat uluhiyyah. Menempatkan manusia (yaitu para imamnya) pada level sifat-sifat ketuhanan. Dalam konsep Islam, seluruh manusia memiliki kesalahan, hanya para nabi yang dijamin kema’shumannya (tidak berbuat salah/dosa). Seperti keterangan Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya Ishmah al-Anbiya bahwa hanya para nabi yang ma’shum dari dosa besar maupun kecil dengan sengaja. Adapun lupa, para nabi bisa melakukan kelupaan. Namun langsung diberi ingatan oleh Allah[37]. Sedangkan para imam, hampir memiliki sifat seperti sifat Allah, tidak lupa dan mengetahui hal-hal ghaib di alam semesta ini. Akidah yang demikian menjadikan para imam memiliki sifat-sifat rububiyyah yang semestinya tidak tepat disematkan kepada manusia.

Penutup

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa secara prinsip, konsep tauhid Ahlussunnah wal Jamaah berbeda dengan konsep tauhid Syiah. Perbedaan itu berasal dari pemahaman yang ghuluw (ekstrim) dari Syiah tentang konsep Imamah. Konsep tauhid kepada Allah, ternyata tidak dapat berdiri sendiri dalam Syiah. Tauhid Syiah ternyata perlu ditopang dengan kepercayaan kepada para imam. Sehingga syarat seorang muslim menjadi muwahhid (orang yang bertauhid) dalam aliran Syiah adalah harus percaya kepada imam beserta teori-teorinya tentang Imamah. Teologi Imamah sendiri bermula dari politik. Dan pada praktiknya teologi Imamah tidak lepas dari politik. Makanya ditemukan beberapa inkonsistensi teologi yang biasanya berlindung dibalik taqiyyah. Karena taqiyah menjadi strategi politis untuk menegakkan teologi Imamah. Pehamaman Imamah yang absolut ini berimplikasi terhadap konsep syirik. Syirik diperluas maknanya menjadi mempersekutukan kepada Allah, dan mempersekutukan Ali dan para imam dengan orang lain dalam hal kepemimpinan. Implikasi berikutnya, konsep ini berpengaruh terhadap konsep-konsep lainnya, seperti konsep pemerintahan, konsep ilmu, konsep keselamatan dan lain sebagainya. Pemerintah yang sah harus dikendalikan oleh imam. Pengetahuan pera imam menjadi pengetahuan yang pasti benar dan imam merupakan salah satu syarat jalan keselamatan. Dengan demikian, kita bisa katakana bahwa konsep imamah menjaadi pandangan hidup syiah, termasuk menjadi elemen mendasar dalam konsep tauhid.[] (http://kholilihasib.com)

___________________________

[1] Syiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sekte Imamiyah Istna ‘Asyariyah, atau disebut Syiah Imamiyah. Sekte ini yang terbesar dan paling dominan saat ini. Menurut Ibn Hazm, Syiah Imamiyah ini juga disebut Rafidhah. Ulama Syiah sendiri, Syekh al-Majlisi juga menamakan kelompoknya dengan Rafidhah. Baca Ali Muhammad al-Syalabi,Khawarij dan Syiah dalam Timbangan Ahlussunnah wal Jamaah,(Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2012)

[2] Di kalangan Syiah ada yang menolak adanya sosok Abdullah bin Saba’. Abdullah bin Saba’ yang popular dalam buku-buku sejarah sebagai seorang Yahudi yang mengaku masuk Islam pada zaman khalifah Ustman bin Affan dianggap sebagian pemikir Syiah sebagai tokoh fiktif. Tokoh Syiah yang menafikan adanya Abdullah bin Saba’ di antaranya, Murtadha al-‘Askari, Khomeini, Husein Ali Kasyif al-Ghita’ dan lain-lain. Sebagian lagi terang-terangan mengakui peran Abdullah bin Saba’ dalam historisitas Syiah. Mereka di antaranya adalah, Sa’ad al-Qummi, an-Nukhbati, al-Kasyi dan pembesar-pembesar Syiah lainnya yang kebanyakan berasal dari ulama’ Syiah klasik. Mereka misalnya menuliskan dalam buku-bukunya, seperti tercantum dalam al-Maqālāt al-Firaq, karya al-Qummi, Firaq al-Syiah dan Rijāl al-Kasyi ditulis al-Nukhbati. Sedangkan di kalangan mutakallimun dan sejarawan Ahl al-Sunnah wal Jama’ah sepakat adanya tokoh Abdullah bin Saba’ ini.

[3] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari,Tārīkh al-Thabari, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk, jilid V (Mesir: Dar al-Ma’arif, tanpa tahun), hal. 347

[4] Ibn Khaldun, Tārīkh Ibnu Khaldūn, (Beirut: Dar al-Fikr, 2001), hal. 109

[5] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk jilid IV (Mesir: Dar al-Maarif, tanpa tahun), hal. 340

[6] Mohammad Baharun,Epistemologi Antagonisme Syiah, dari Imamah sampai Mut’ah,(Malang: Pustaka Bayan, 2008), hal.18

[7]Ibid, hal.17

[8] Ali Muhammad al-Syalabi, Khawarij dan Syiah dalam Timbangan Ahl al-Sunnah wal Jamaah, terj. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2007), hal. 161

[9]Muhammad Ahmad al-Turkamaniy,Ta’rīf bi Madzhabi al-Syiah al-Imāmiyah,(Amman: Dar al-‘Imārah,1986), hal. 23

[10] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz 8, (Teheran:Dar al-Kutub al-Islami,1389 H), hal. 245

[11] Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’, Ashl al-Syiah wa Ushuliha,(Teheran, Maktabah al-Tsaqafah al-Islamiyah, tanpa tahun), hal. 79

[12] Muhammad Ahmad al-Turkamaniy,Ta’rīf bi Madzhabi al-Syiah al-Imāmiyah, … hal. 117

[13] Ayatullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, (Teheran: Dar Kutub Islamiyyah, tanpa tahun) , hal.20

[14] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari kitab al-Maghazi juz II,(Beirut: Dar al-Fikr,1981), hal. 55

[15] Ibn Kastir,Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul yang Agung,ter. Al-Bidayah wa al-Nihayah,(Jakarta: Dar al-Haq, 2011), hal. 568

[16] Ayatullah Khumaini,Kasf al-Asrar, (Amman: Dar ‘Imad, 1408 H/1987 M), hal. 37 dan 38

[17] Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghita’, Ashl al-Syiah wa Ushuliha,…hal. 63

[18] Muhammad Ridha al-Mudzaffar,’Aqāid al-Imamiyah,(Kairo: Mathbu’at al-Najah,1391 H), hal. 14

[19] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz II, (Teheran:Dar al-Kutub al-Islami,1389 H), hal. 25

[20] Mamduh Farhan al-Buhairi,Gen Syiah Sebuah Tinjauan Sejarah, Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi [terj],(Jakarta: Darul Falah, 2001), hal. 192

[21] Ali Ahmad al-Salus,Ensiklopedi Sunnah-Syiah Jilid I,[terj] (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,1997), hal. 327

[22] Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,….. hal. 148

[23] Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,…… hal. 40

[24] QS. Saba’: 3

[25] QS. Al-An’am: 59

[26] Muhammad al-Husein Ali Kasyif al-Ghita,Asl al-Syiah wa Ushuliha, hal. 134

[27] Ibid, hal. 65

[28] Ruhullah Khumaini,al-Hukumah al-Islamiyah, (Teheran: Dar al-Kutub Islamiyah, tt), hal. 84

[29] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz IV,…. 350

[30] Sayyid Abdul Husein,Al-Yaqin,(Beirut: Dar al-Maarif, 1989), hal. 46

[31] Ayatullah Khumaini, Al-Hukumah al-Islamiyah, … hal. 52

[32] Ibid

[33] Abdullah Muhammad al-Gharib,Al-Khumaini baina al-Tathorruf wa al-I’tidal, (tanpa tahun), hal. 37

[34] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,…. 427

[35] Al-Majlisi,Bihar al-Anwar 23, hal. 390

[36] Muhammad bin Ya’kub bin Ishaq Al-Kulaini,Al-Kafi juz I,…. 415

[37] Fakhruddin al-Razi,Ishmah al-Anbiya’, (Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1986), hal. 4

© Copyright 2013 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com
solusi masa depan anda

Tentang Penulis

-

Seorang guru yang selalu menjadi murid di mana pun berada.

Tulis komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan kode html berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Goodreads

Website Apps